Skip to main content

Posts

Sudah Sampai Di Mana Saya?

Satu tahun ini saya banyak berbicara pada diri saya, tentang apa saja. Ya, pandemi membuat semua ini mungkin. Banyak keputusan penting yang saya ambil pada satu tahun ini. Memutuskan untuk akhirnya berani melayangkan gugatan cerai, pindah rumah, serta keputusan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kepemimpinan di kantor. Mungkin ini adalah buah dari saya bicara dengan diri saya sendiri tadi. Saya merasa perlu melakukan orientasi ulang terhadap visi hidup, prioritas hidup serta yang paling penting menemukan kembali diri saya yang otentik.  Apa jalan saya selama ini salah? Apa saya menyesalinya? Akan ada di mana saya jika saja saya mengambil pilihan yang berbeda. Bagaimana jika saya tidak bekerja di lembaga tempat saya bekerja sekarang? Bagaimana jika saya tidak menikah dengan mantan saya? Bagaimana jika ini, jika itu, dan sebagainya.  Jawabannya, tidak. Saya tidak pernah menyesali satupun keputusan yang pernah saya ambil dalam hidup. Buat saya, semua adalah bagian dari hidup, y...

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...

2017

Saat membuka blog, saya baru sadar bahwa sudah satu tahun saya tidak pernah mengisi blog ini.  Terlalu sibuk bikin puisi di media sosial sepertinya, sampai blog ini tak terawat lagi.    Cukup sulit untuk saya meringkas perasaan untuk merefleksikan tahun 2017.  Mudah atau sulit, sedih atau gembira, membosankan atau menggairahkan? Saya tidak bisa menemukan kata-kata yang bisa mewakilinya.   Secara emosional saya terpuruk cukup dalam pada tahun ini. Penyebabnya sangat banyak dan beragam tipenya. Kakak saya masuk rumah sakit dalam kondisi yang dapat dikatakan sangat buruk. Sempat masuk ICU beberapa hari, dan sampai saat inipun belum dapat diajak berkomunikasi.  Saya menangis terus waktu pertama kali mengetahui kakak saya terkena kanker, hanya dalam waktu satu tahun sejak meninggalnya ibu. Ini beban mental yang luar biasa buat saya. Di satu sisi saya harus terus positif dan yakin bahwa kakak saya pasti akan membaik. Tapi di sisi lain, hati saya teriris-iris ...

2016

Pada akhirnya, alam berpihak kepada saya, memberikan begitu banyak kebaikan setelah rasanya duka menetap seperti selamanya.  2016 bisa disebut sebagai salah satu tahun paling membahagiakan dalam hidup. Di tengah hiruk pikuk bekerja, terselip begitu banyak cerita bahagia. Cerita dari mahasiswa yang tengah berjuang membuat jalan cerita hidup mereka.  Merasa beruntung bisa sedikit ambil bagian dari jalan cerita mereka.   2016 ini pun saya berkesempatan mengunjungi banyak tempat. Menapaki puncak Merbabu, Prau dan Mahameru, tempat-tempat yang dulu hanya bisa jadi impian saja. Sejak SMA saya ingin sekali ikut teman-teman mendaki berbagai gunung di Indonesia. Namun apa daya, ayah ibu saya tidak mampu membiayainya. Keinginan yang saya pendam terus sampai saya nanti tiba waktunya.   Berada di puncak-puncak gunung itu, perasaan saya selalu bercampur baur.  Saya tahu, usia saya tak lagi muda, perlu kerja lebih keras untuk bisa naik bareng dengan mereka yang usianya 15 ...

Rasa Sakit

Saat operasi usus buntu beberapa waktu lalu, dokter menemukan adanya kista kecil di dekat ovarium saya. Reaksi awal saya tentu saja menanyakan apakah kista itu berbahaya atau tidak. Dokter Febian, dokter yang menangani operasi saya menjelaskan lebih lanjut, kalau nanti saat mensturasi sakit sebaiknya saya periksa kepada dokter kandungan sambil membawa photo hasil operasi kemarin.  Masalahnya, saat ini saya sedang bingung dengan mengukur rasa sakit. Apakah kalau saya bilang tidak sakit maka itu memang tidak sakit? Beberapa pengalaman saya berhadapan dengan rasa sakit semakin membuat saya ragu dengan justifikasi saya sendiri, Pernah saya ke dokter gigi dengan pipi yang bengkak sampai saya hampir-hampir tidak bisa buka mulut. Saya baru tersadar bahwa saya seharusnya merasakan sakit ketika salah seorang mahasiswa mengomentari. "Wah mbak, kalau saya pipi bengkak seperti itu boro-boro ketawa-tawa kayak Mbak, mau ngomong aja males". Saat itu memang datang untuk presentasi teman...

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2015

Semoga belum terlambat untuk mencatat 2015 adalah tahun keramat Di mana saya menangis dan kehilangan sangat Kehilangan ibu yang saya cintai sampai akhir hayat 2015 juga tahun penuh tawa Saat mimpi sedikit demi sedikit menjelma Saat cinta sejati memeluk raga Saat kawan sejati menampakan wujudnya 2015 tidak akan pernah hilang dari cakrawala ingatan saya.

Di Ujung Pelangi

Air berbisik lirih pagi tadi saat ku mandi “Hey, alam akan membahagiakanmu hari ini" Kukecup buliran air seraya mengucapkan terima kasih Alam tak pernah mengecewakanku serumit apapun situasinya Ia selalu menyisakan ruang bahagia untukku Skenario alam bekerja keras membahagianku hari ini Mengalir, mendesir, mengayuh bahagia hampir ke puncak Aku telah mencukupkan bahagiaku sampai di situ, tak ingin loba meminta dari yang seharusnya Tanpa aku tahu, alam telah bersiasat denganmu seharian ini Melimpahkan deburan, denting, nyayian dan gelak Menuangkan kasih yang serupa cahaya senja Merah, jingga keemasan Aku tak berani meminta apapun lagi Ini sudah seperti mandi di ujung pelangi Terima kasih untuk membuat mungkin semua ini Kasih.

Melintas

Aku dan kamu mungkin sama-sama tak menduga Tapi yang pasti sama-sama bergembira Kita akhirnya berani melintas Tak lagi saling berpandangan, menunggu siapa yang berani maju Sekat dan batas sudah kita hancurkan Dan kita sudah tiba di sini Berdua Bersuka cita Tak perlu lagi ada tanda tanya

Usaha Menulis Puisi Denganmu

Aku sudah menuliskan bait pertama, saat kau masih kebingungan mencari kata-kata Hey, ini sudah bait ke dua ku Kulihat kau masih berjibaku  dengan benturan-demi benturan dan tak berhasil jua menuliskan kata-katamu Baiklah, mungkin kau segera menemukan kata-kata setelah kutuliskan bait terakhirku Tapi, aku keliru Kau terlalu takut untuk menuliskan kata-katamu, takut akan apa yang kau sendiri tak tahu Akhirnya, jadilah puisi ini hanya menjadi puisiku Biarlah, setidaknya tlah kuselesaikan bagianku)

Selamat Terbang Lagi, Sayang

Aku terlonjak gembira saat kau tolak ajakanku bertemu hari itu. Kau akan pergi menyelam bersama kawan-kawanmu di kepulauan seribu, katamu. Kau bergembira lagi setelah bertahun memojok di sudut biru. Tak ada yang lebih bahagia selain mendengar kabar itu darimu. Pada malam-malam yang tak tertahan, kau sering datang padaku untuk melebur kesedihan. Bersabar kutemani kau dengan racauan dan kegilaan. Tak kumiliki penawar apapun selain memeluk dan mendengarkan. Berharap duka itu mereda dan kau siap mengejar lagi kupu-kupu mu. Selamat terbang lagi, sayang. Aku yang berbahagia dengan sembuhmu.

Aku, Kau, dan Senja Yang Menanti Kita

Tidak, aku tak sedang ingin menaklukanmu Menjeratmu dalam sangkarku sehingga kau tak bisa memikirkan hal lain selain aku Begini saja Tenang-tenanglah kau di situ Nikmati saja detak kebersamaan kita Kadang begitu membabi buta Kadang, yaa biasa-biasa saja Tak perlu pula kau berupaya membuatku cemburu Itu tak ada dalam kamusku Santai saja, lambat saja Kau dan aku akan sampai jua di situ Di sebuah senja yang telah lama merindukan percakapan kita Begitu serunya Sampai kita lupa Bahwa senja telah menunggu begitu lama

Perasaan Yang Menunggu Abadi

Perempuan itu mengenali perasaan-perasaan itu. Perasaan yang sudah ia timbun dengan gumpalan kasih sayang. Kenapa tiba-tiba mereka mencuat merobek otot segar kenangan manisnya. Dia mengenali rasa terhina itu, saat laki-laki itu menggagalkan janjinya untuk satu acara yang bahkan tak pernah ada. Atau rasa miris saat laki-laki itu lebih memilih pergi dengan perempuan lain, meninggalkannya di kamar hotel sendirian.  Begitu juga rasa nelangsa, saat laki-laki itu membelikannya sebuah buku yang tak pernah ingin dibacanya. Perempuan itu tahu buku itu adalah buku favorit dari kekasih laki-laki itu. Perasaan-perasaan itu bersamanya lagi kini. Menunggu abadi.

Obsesi Mimpi

Saya mudah jatuh cinta pada penulis fiksi dan puisi, semudah saya jatuh cinta pada karya-karya mereka. Daya imaginasi mereka sepertinya adalah pemikat nomor satu, melebihi daya pikat apapun yang ada di dunia ini.   Menerka-nerka bagaimana proses kreatif dan siapa orang dibalik tokoh-tokoh rekaan mereka adalah misteri paling ingin saya pecahkan di dunia. Oleh karenanya saya menjadi begitu terobsesi untuk berkenalan dengan mereka.   Bertemu mereka di sebuah ruang bisa bikin saya deg-deg an tidak jelas seperti orang yang ketemu gebetan. Salah tingkah dan berusaha mencari cara untuk berkenalan tapi cukup malu untuk melakukan.   Mungkin sebetulnya saya sedang terobsesi dan jatuh cinta dengan mimpi saya sendiri. Mimpi yang belum berani saya jalani. 

Lika Liku Laki-Laki

Seumuran gini, saya sudah mengenal banyak tipe laki-laki.   Tipe setenang awan atau semeledak gunung   pasti pernah berpapasan sekali dua di persimpangan jalan kehidupan.   Ini beberapa yang saya identifikasi 1.   Pemberontak Berotak Ini tipe yang sebetulnya menjadi idola saya sepanjang masa. Dandanan berantakan, cuek,   irit ngomong namun hangat. Tipe ini gak terlalu suka   diatur dan ngatur. Ia hanya memastikan perempuan yang ia sayangi terlindungi tanpa berlebihan memproteksi.   Ia bukan tipe yang menanyakan “udah makan belum” tapi langsung membelikan makanan. Ia juga gak sudak ditanya-tanya pergi ke mana, tapi selalu ada kalau kita lagi butuh dia. Tipe ini biasanya juga pintar dan idealis.  2. To Sweet to Forget Ah dia mungkin menjadi idola banyak perempuan, selalu manis dan berusaha membuat kita nyaman.   Dalam level yang cukup, tipe ini buat saya masih baik-baik saja. Namun, saat sudah kelewatan manis kaya...

Setan Keadilan

Sebongkah kecil percaya yang saya genggam mendadak berubah menjadi pasir Saya merasakan jari-jari saya makin melemah bersama dengan amarah yang tak lagi tertampung Apakah masih ada yang bisa saya upayakan Ini lebih sulit ketimbang berhadapan dengan setan-setan Ya setidaknya kita tau mereka setan Ketimbang setan yang menyelinap di baju keadilan Setan!