Saya mudah jatuh cinta pada penulis fiksi dan puisi, semudah
saya jatuh cinta pada karya-karya mereka. Daya imaginasi mereka sepertinya
adalah pemikat nomor satu, melebihi daya pikat apapun yang ada di dunia
ini. Menerka-nerka bagaimana proses
kreatif dan siapa orang dibalik tokoh-tokoh rekaan mereka adalah misteri paling
ingin saya pecahkan di dunia. Oleh karenanya saya menjadi begitu terobsesi
untuk berkenalan dengan mereka. Bertemu
mereka di sebuah ruang bisa bikin saya deg-deg an tidak jelas seperti orang
yang ketemu gebetan. Salah tingkah dan berusaha mencari cara untuk berkenalan
tapi cukup malu untuk melakukan. Mungkin
sebetulnya saya sedang terobsesi dan jatuh cinta dengan mimpi saya sendiri. Mimpi
yang belum berani saya jalani.
Gue merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan hal dalam pekerjaan gue sebagai peneliti. Dari sidang tahunan MPR yang gegap gempita, rapat dengar pendapatnya DPR /DPRD, ketemu para petani, nelayan, kepala desa, dsb. Kemaren, untuk pertama kalinya gue ikut dalam sidang sebuah perkara waris di pengadilan agama mataram. Waktu Mark bilang ke gue bahwa tipikal hakim-hakim pengadilan agama di daerah itu tulus-tulus dan baik, gue tidak segera menerima pendapatnya. Yang ada di kepala gue, hakim pengadilan agama itu pasti patriarki dan bias gender...huhu, parahnya gue. Gue sudah memberikan penilaian tanpa pernah sekalipun berhubungan dengan mereka. Padahal ini adalah satu hal yang paling dilarang saat kita ingin berjaringan, gue ingat betul BS menekankan ini saat sharing pengalaman soal networking (Thanks bip). Sidang kemarin sungguh berharga buat gue, disamping mendapat banyak kenalan dari ibu-ibu yang sedang mendaftarkan perceraian gue juga tau betapa beratnya menjadi hakim...
Comments