Skip to main content

Aku, Kau, dan Senja Yang Menanti Kita

Tidak, aku tak sedang ingin menaklukanmu
Menjeratmu dalam sangkarku sehingga kau tak bisa memikirkan hal lain selain aku
Begini saja
Tenang-tenanglah kau di situ
Nikmati saja detak kebersamaan kita
Kadang begitu membabi buta
Kadang, yaa biasa-biasa saja
Tak perlu pula kau berupaya membuatku cemburu
Itu tak ada dalam kamusku
Santai saja, lambat saja
Kau dan aku akan sampai jua di situ
Di sebuah senja yang telah lama merindukan percakapan kita
Begitu serunya
Sampai kita lupa
Bahwa senja telah menunggu begitu lama

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...