Skip to main content

Posts

Menunggu Pertanda Semesta

Saya rasa saya hancur dalam dua minggu belakangan ini. Berusaha mencari tahu dari berbagai pertanda. Air, api, udara dan bumi semua bungkam. Saya tak tau lagi mencari di mana. Saya kirimkan ribuan butir air mata saya, untuk berbicara pada semesta. Tetap saja tak ada jawabnya. Saya merasa serba salah, saya bahkan tak berani mengambil langkah. Apapun yang lakukan atau katakan, bisa disalahartikan oleh pihak manapun. Saya hanya bisa membantu sekuat tenaga bagi yang tersisa. Mengharapkan sedikit binar kembali menyala di mata mereka. Berusaha tetap berdiri dengan kaki yang tak lagi bertenaga. Dengan asa yang   makin terkikis, dengan percaya yang sudah tipis. Hanya ikatan persahabatan yang terus menguatkan dan membuat bertahan. Saya tak ingin menyalahkan siapapun kecuali diri saya sendiri. Ya, diri saya sendiri. Semesta, apakah arti ini semua? 

Kekasih Sejati

Ada suatu hari di mana kau hanya ingin mengumpat pada dunia. Ada suatu hari di mana kau tak tahu harus berbagi pada siapa. Ada suatu hari kau merasa sepi, tak ada kawan atau kekasih menemani. Suatu hari di mana semua alasan tak masuk di akal. Suatu hari di mana hanya puisi yg bisa mengerti, menemani sekaligus paling masuk akal. Suatu hari itu hari ini. Dan aku hanya ingin bersama puisi. Puisi menemani sampai kasih tiba di sini. Atau mungkin, kaulah si kekasih sejati. Puisi.

Selalu di sini

Kita berbicara panjang malam ini. Aku bicara dengan air mataku yg tak juga bisa berhenti Kau bicara dengan dekapmu  yg mengobati. Tak ada kata menghakimi, tak ada pertanyaan menyelidiki. Hanya pelukmu yg mengatakan, kau akan selalu di sini.

Bersandar

Sudah lelah, kenapa tak juga sudah. Begitu susah hanya ingin memelukmu di sebuah malam. Melepas beban, melepas gundah. Tak bolehkah kami mendapat kesempatan sewajarnya pasangan lain. Sudah lelah, kenapa tak jua sudah. Aku hanya ingin bersandar, aku lelah berlayar. 

Sungguh Rindu

Baiklah kita tahan dulu rindu ini. Sekuat kita bisa menahan.   Tidak semua hal bisa jalankan sesuai keinginan.   Ternyata   kerja tak mereda, di   waktu kita harusnya berjumpa. Ya sudahlah, bersabar saja. Tangkap pelan rindumu, gantungkan di pintu. Tunggu aku mengambilnya dengan memburu. Aku sungguh rindu kamu, tiap malam aku menangis tersedu. Hanya saja aku tak ingin kau tahu.  *untuk Red*

Sore Berbincang Asa

Bertahun   lamanya kami tak bertemu, cukup lama hingga kami tak bisa lagi mengingat kapan terakhir. Tubuhnya masih seperti dulu, tinggi tegap dengan rambut cepak macam pemain basket. Tawanya selalu meledak saat kami menyusuri kembali masa-masa jenaka kami dulu.   Matanya yang tak terlalu besar dan nyaris hilang bila tertawa menyelidik dalam ke pada mataku. Entah apa yang ia cari. Panjang ia bercerita tentang getir hidupnya menjadi guru anak-anak autis. Tentang mimpinya mempunyai sekolah gratis untukanak autis ya g tak berpunya. Tentang petualangannya dari satu negara ke negara lain, dari satu orang tua ke orang tua lain dari satu sistem pendidikan ke sistem pendidikan lain. Aku hanya bisa diam memandang penuh kekaguman tentang betapa hebatnya ia. Bertahan dengan segala cita-cita dan keterbatasan. Ia meneruskan ceritanya sambil menghabiskan secangkir kecil espresso dan berbatang rokonya. Aku masih setia menunggunya selesai bercerita. Mungkin aku hanya...

Duka Menunggu Kala

Dia menghitung menit dan detik yang lalu lalang dihadapannya.   Langkah mereka lambat, nyaris terseok seok. Melirik ke dia yang dengan senyum manis menawarkan duka yang hampir mengering terkena matahari. Rasanya sudah seumur hidupnya ia menawarkan sang duka pada kala.   Ia menyimpan sejuta harapan suatu saat sang detik, menit atau jam berhenti dan membelinya. Tapi hari ini , seperti tahun-tahun yang sudah, waktu masih belum ingin mengambil duka. Ia melipat kembali duka dagangannya, melipatnya dan memanggul dipundaknya. Ah, mungkin belum waktunya, ia berkata dalam hati. Duka ini masih ingin menemaninya.   Senyumnya sudah tak semanis dulu lagi.