Skip to main content

Duka Menunggu Kala


Dia menghitung menit dan detik yang lalu lalang dihadapannya.  Langkah mereka lambat, nyaris terseok seok. Melirik ke dia yang dengan senyum manis menawarkan duka yang hampir mengering terkena matahari. Rasanya sudah seumur hidupnya ia menawarkan sang duka pada kala.  Ia menyimpan sejuta harapan suatu saat sang detik, menit atau jam berhenti dan membelinya. Tapi hari ini , seperti tahun-tahun yang sudah, waktu masih belum ingin mengambil duka. Ia melipat kembali duka dagangannya, melipatnya dan memanggul dipundaknya. Ah, mungkin belum waktunya, ia berkata dalam hati. Duka ini masih ingin menemaninya.  Senyumnya sudah tak semanis dulu lagi. 

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...