Dia menghitung menit dan detik yang lalu lalang
dihadapannya. Langkah mereka lambat,
nyaris terseok seok. Melirik ke dia yang dengan senyum manis menawarkan duka
yang hampir mengering terkena matahari. Rasanya sudah seumur hidupnya ia
menawarkan sang duka pada kala. Ia
menyimpan sejuta harapan suatu saat sang detik, menit atau jam berhenti dan
membelinya. Tapi hari ini , seperti tahun-tahun yang sudah, waktu masih belum
ingin mengambil duka. Ia melipat kembali duka dagangannya, melipatnya dan
memanggul dipundaknya. Ah, mungkin belum waktunya, ia berkata dalam hati. Duka
ini masih ingin menemaninya. Senyumnya
sudah tak semanis dulu lagi.
Saya tidak mengerti, mengapa kamu harus menyembunyikannya. Tahukah kamu, bahwa dari semua tutur kata dan tatapan matamu, aku tahu kamu menyukai dia. Kamu menceritakan dia berulang-ulang seolah dia adalah sumber inspirasi yang tak kunjung habis. Dia selalu mewarnai hari-harimu. Tak pernah satu haripun terlewat tanpa nama nya kau sebutkan. Yaa, memang terkadang kamu menceritakan tentang istrinya, tentang rekan kerjanya atau tentang kejadian-kejadian tidak penting. Tapi bukan kejadian itu yang ingin kau ceritakan. Kau hanya ingin menceritakan dia. Mungkin jiwamu sedang bergejolak. Ada rasa berdosa menyelinap dalam relung-relung dadamu. Tapi juga ada perasaan indah tak tertahan yang menyemburkan jutaan kegairahan hidup. Lalu tiba-tiba kerinduan menyeruak dalam lautan kegalauan yang sedang kau sebrangi, membuat langkahmu berhenti. Dan berhenti. Di titik ini, kau tidak tahu lagi harus bagaimana. Kenapa cinta ini tak lagi semudah masa SMA.. (Kau tercenung sambil memandangi bayimu yang sedan...
Comments