Dia menghitung menit dan detik yang lalu lalang
dihadapannya. Langkah mereka lambat,
nyaris terseok seok. Melirik ke dia yang dengan senyum manis menawarkan duka
yang hampir mengering terkena matahari. Rasanya sudah seumur hidupnya ia
menawarkan sang duka pada kala. Ia
menyimpan sejuta harapan suatu saat sang detik, menit atau jam berhenti dan
membelinya. Tapi hari ini , seperti tahun-tahun yang sudah, waktu masih belum
ingin mengambil duka. Ia melipat kembali duka dagangannya, melipatnya dan
memanggul dipundaknya. Ah, mungkin belum waktunya, ia berkata dalam hati. Duka
ini masih ingin menemaninya. Senyumnya
sudah tak semanis dulu lagi.
Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir. Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya, meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...
Comments