Skip to main content

Sore Berbincang Asa


Bertahun  lamanya kami tak bertemu, cukup lama hingga kami tak bisa lagi mengingat kapan terakhir. Tubuhnya masih seperti dulu, tinggi tegap dengan rambut cepak macam pemain basket. Tawanya selalu meledak saat kami menyusuri kembali masa-masa jenaka kami dulu.  Matanya yang tak terlalu besar dan nyaris hilang bila tertawa menyelidik dalam ke pada mataku. Entah apa yang ia cari.

Panjang ia bercerita tentang getir hidupnya menjadi guru anak-anak autis. Tentang mimpinya mempunyai sekolah gratis untukanak autis ya g tak berpunya. Tentang petualangannya dari satu negara ke negara lain, dari satu orang tua ke orang tua lain dari satu sistem pendidikan ke sistem pendidikan lain. Aku hanya bisa diam memandang penuh kekaguman tentang betapa hebatnya ia. Bertahan dengan segala cita-cita dan keterbatasan.

Ia meneruskan ceritanya sambil menghabiskan secangkir kecil espresso dan berbatang rokonya. Aku masih setia menunggunya selesai bercerita. Mungkin aku hanya orang yang saat itu tersedia untuknya bercerita.  Yang dengan sebisa mungkin terus membantu menghidupkan asa nya. Aku tak bisa menawarkan apapun padanya, sebatas pelukan hangat supaya ia tetap semangat. Aku ingin kau tetap bertahan kawan. Walau aku tak tahu bisa membantu apa. 

Comments

Popular posts from this blog

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...

Sudah Sampai Di Mana Saya?

Satu tahun ini saya banyak berbicara pada diri saya, tentang apa saja. Ya, pandemi membuat semua ini mungkin. Banyak keputusan penting yang saya ambil pada satu tahun ini. Memutuskan untuk akhirnya berani melayangkan gugatan cerai, pindah rumah, serta keputusan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kepemimpinan di kantor. Mungkin ini adalah buah dari saya bicara dengan diri saya sendiri tadi. Saya merasa perlu melakukan orientasi ulang terhadap visi hidup, prioritas hidup serta yang paling penting menemukan kembali diri saya yang otentik.  Apa jalan saya selama ini salah? Apa saya menyesalinya? Akan ada di mana saya jika saja saya mengambil pilihan yang berbeda. Bagaimana jika saya tidak bekerja di lembaga tempat saya bekerja sekarang? Bagaimana jika saya tidak menikah dengan mantan saya? Bagaimana jika ini, jika itu, dan sebagainya.  Jawabannya, tidak. Saya tidak pernah menyesali satupun keputusan yang pernah saya ambil dalam hidup. Buat saya, semua adalah bagian dari hidup, y...