Skip to main content

Sore Berbincang Asa


Bertahun  lamanya kami tak bertemu, cukup lama hingga kami tak bisa lagi mengingat kapan terakhir. Tubuhnya masih seperti dulu, tinggi tegap dengan rambut cepak macam pemain basket. Tawanya selalu meledak saat kami menyusuri kembali masa-masa jenaka kami dulu.  Matanya yang tak terlalu besar dan nyaris hilang bila tertawa menyelidik dalam ke pada mataku. Entah apa yang ia cari.

Panjang ia bercerita tentang getir hidupnya menjadi guru anak-anak autis. Tentang mimpinya mempunyai sekolah gratis untukanak autis ya g tak berpunya. Tentang petualangannya dari satu negara ke negara lain, dari satu orang tua ke orang tua lain dari satu sistem pendidikan ke sistem pendidikan lain. Aku hanya bisa diam memandang penuh kekaguman tentang betapa hebatnya ia. Bertahan dengan segala cita-cita dan keterbatasan.

Ia meneruskan ceritanya sambil menghabiskan secangkir kecil espresso dan berbatang rokonya. Aku masih setia menunggunya selesai bercerita. Mungkin aku hanya orang yang saat itu tersedia untuknya bercerita.  Yang dengan sebisa mungkin terus membantu menghidupkan asa nya. Aku tak bisa menawarkan apapun padanya, sebatas pelukan hangat supaya ia tetap semangat. Aku ingin kau tetap bertahan kawan. Walau aku tak tahu bisa membantu apa. 

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Sidang

Gue merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan hal dalam pekerjaan gue sebagai peneliti. Dari sidang tahunan MPR yang gegap gempita, rapat dengar pendapatnya DPR /DPRD, ketemu para petani, nelayan, kepala desa, dsb. Kemaren, untuk pertama kalinya gue ikut dalam sidang sebuah perkara waris di pengadilan agama mataram. Waktu Mark bilang ke gue bahwa tipikal hakim-hakim pengadilan agama di daerah itu tulus-tulus dan baik, gue tidak segera menerima pendapatnya. Yang ada di kepala gue, hakim pengadilan agama itu pasti patriarki dan bias gender...huhu, parahnya gue. Gue sudah memberikan penilaian tanpa pernah sekalipun berhubungan dengan mereka. Padahal ini adalah satu hal yang paling dilarang saat kita ingin berjaringan, gue ingat betul BS menekankan ini saat sharing pengalaman soal networking (Thanks bip). Sidang kemarin sungguh berharga buat gue, disamping mendapat banyak kenalan dari ibu-ibu yang sedang mendaftarkan perceraian gue juga tau betapa beratnya menjadi hakim...

Menyusuri Jalan Cinta

Bagi insan yang sedang berkasih kasihan, pilihan moda tranportasi bisa menjadi keseruan tersendiri.  Berkaca dari pengalaman, saya termasuk orang yang senang mencoba berbagai alat transportasi saat sedang berkasih-kasihan.  Begini kira-kira perasaan yang mewarnai dalam jalan-jalan cinta saya.  Kereta Api Berpegian dengan kekasih dengan lereta api menghadirkan perasaan yang aneh bagi saya, saat kami berdua merasa memiliki ruang privat sekaligus bersinggungan dengan publik.  Kalau perjalanan di lakukan saat siang hari perasaan yang hadir lebih seperti seolah saya bergandengan tangan dengannya sambil menembus lorong waktu. Saat malam dan tidak terlihat apapun, yang hadir lebih seperti hangat dan nyaman, sesekali mencuri kesempatan mengecup pipi kekasih. Tentu saja kalau penumpang lain sudah mulai tertidur. Sepeda Motor Untuk para laki-laki dan perempuan yang kekasihnya sedang murka, ajaklah ia naik sepeda motor. Ini pengalaman saya, semarah apapun saya den...