Skip to main content

Menunggu Pertanda Semesta


Saya rasa saya hancur dalam dua minggu belakangan ini. Berusaha mencari tahu dari berbagai pertanda. Air, api, udara dan bumi semua bungkam. Saya tak tau lagi mencari di mana. Saya kirimkan ribuan butir air mata saya, untuk berbicara pada semesta. Tetap saja tak ada jawabnya.

Saya merasa serba salah, saya bahkan tak berani mengambil langkah. Apapun yang lakukan atau katakan, bisa disalahartikan oleh pihak manapun. Saya hanya bisa membantu sekuat tenaga bagi yang tersisa. Mengharapkan sedikit binar kembali menyala di mata mereka. Berusaha tetap berdiri dengan kaki yang tak lagi bertenaga. Dengan asa yang  makin terkikis, dengan percaya yang sudah tipis. Hanya ikatan persahabatan yang terus menguatkan dan membuat bertahan.

Saya tak ingin menyalahkan siapapun kecuali diri saya sendiri. Ya, diri saya sendiri. Semesta, apakah arti ini semua? 

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Sidang

Gue merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan hal dalam pekerjaan gue sebagai peneliti. Dari sidang tahunan MPR yang gegap gempita, rapat dengar pendapatnya DPR /DPRD, ketemu para petani, nelayan, kepala desa, dsb. Kemaren, untuk pertama kalinya gue ikut dalam sidang sebuah perkara waris di pengadilan agama mataram. Waktu Mark bilang ke gue bahwa tipikal hakim-hakim pengadilan agama di daerah itu tulus-tulus dan baik, gue tidak segera menerima pendapatnya. Yang ada di kepala gue, hakim pengadilan agama itu pasti patriarki dan bias gender...huhu, parahnya gue. Gue sudah memberikan penilaian tanpa pernah sekalipun berhubungan dengan mereka. Padahal ini adalah satu hal yang paling dilarang saat kita ingin berjaringan, gue ingat betul BS menekankan ini saat sharing pengalaman soal networking (Thanks bip). Sidang kemarin sungguh berharga buat gue, disamping mendapat banyak kenalan dari ibu-ibu yang sedang mendaftarkan perceraian gue juga tau betapa beratnya menjadi hakim...

Menyusuri Jalan Cinta

Bagi insan yang sedang berkasih kasihan, pilihan moda tranportasi bisa menjadi keseruan tersendiri.  Berkaca dari pengalaman, saya termasuk orang yang senang mencoba berbagai alat transportasi saat sedang berkasih-kasihan.  Begini kira-kira perasaan yang mewarnai dalam jalan-jalan cinta saya.  Kereta Api Berpegian dengan kekasih dengan lereta api menghadirkan perasaan yang aneh bagi saya, saat kami berdua merasa memiliki ruang privat sekaligus bersinggungan dengan publik.  Kalau perjalanan di lakukan saat siang hari perasaan yang hadir lebih seperti seolah saya bergandengan tangan dengannya sambil menembus lorong waktu. Saat malam dan tidak terlihat apapun, yang hadir lebih seperti hangat dan nyaman, sesekali mencuri kesempatan mengecup pipi kekasih. Tentu saja kalau penumpang lain sudah mulai tertidur. Sepeda Motor Untuk para laki-laki dan perempuan yang kekasihnya sedang murka, ajaklah ia naik sepeda motor. Ini pengalaman saya, semarah apapun saya den...