Skip to main content

Menunggu Pertanda Semesta


Saya rasa saya hancur dalam dua minggu belakangan ini. Berusaha mencari tahu dari berbagai pertanda. Air, api, udara dan bumi semua bungkam. Saya tak tau lagi mencari di mana. Saya kirimkan ribuan butir air mata saya, untuk berbicara pada semesta. Tetap saja tak ada jawabnya.

Saya merasa serba salah, saya bahkan tak berani mengambil langkah. Apapun yang lakukan atau katakan, bisa disalahartikan oleh pihak manapun. Saya hanya bisa membantu sekuat tenaga bagi yang tersisa. Mengharapkan sedikit binar kembali menyala di mata mereka. Berusaha tetap berdiri dengan kaki yang tak lagi bertenaga. Dengan asa yang  makin terkikis, dengan percaya yang sudah tipis. Hanya ikatan persahabatan yang terus menguatkan dan membuat bertahan.

Saya tak ingin menyalahkan siapapun kecuali diri saya sendiri. Ya, diri saya sendiri. Semesta, apakah arti ini semua? 

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...