Ada suatu hari di mana kau hanya ingin mengumpat pada dunia. Ada suatu hari di mana kau tak tahu harus berbagi pada siapa. Ada suatu hari kau merasa sepi, tak ada kawan atau kekasih menemani. Suatu hari di mana semua alasan tak masuk di akal. Suatu hari di mana hanya puisi yg bisa mengerti, menemani sekaligus paling masuk akal. Suatu hari itu hari ini. Dan aku hanya ingin bersama puisi. Puisi menemani sampai kasih tiba di sini. Atau mungkin, kaulah si kekasih sejati. Puisi.
Gue merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan hal dalam pekerjaan gue sebagai peneliti. Dari sidang tahunan MPR yang gegap gempita, rapat dengar pendapatnya DPR /DPRD, ketemu para petani, nelayan, kepala desa, dsb. Kemaren, untuk pertama kalinya gue ikut dalam sidang sebuah perkara waris di pengadilan agama mataram. Waktu Mark bilang ke gue bahwa tipikal hakim-hakim pengadilan agama di daerah itu tulus-tulus dan baik, gue tidak segera menerima pendapatnya. Yang ada di kepala gue, hakim pengadilan agama itu pasti patriarki dan bias gender...huhu, parahnya gue. Gue sudah memberikan penilaian tanpa pernah sekalipun berhubungan dengan mereka. Padahal ini adalah satu hal yang paling dilarang saat kita ingin berjaringan, gue ingat betul BS menekankan ini saat sharing pengalaman soal networking (Thanks bip). Sidang kemarin sungguh berharga buat gue, disamping mendapat banyak kenalan dari ibu-ibu yang sedang mendaftarkan perceraian gue juga tau betapa beratnya menjadi hakim...
Comments