Skip to main content

Posts

Lepaskanlah

Saya berjanji dalam hati saya, jika pada suatu hari nanti saya menjadi orang tua saya dapat melepas anak saya yang telah besar dengan hati lega.   Memberi mereka kebebasan untuk menentukan hidup mereka. Mungkin itu tidak mudah, paling tidak dari yang saya lihat disekitar. Begitu terikatnya mereka dengan   anak mereka dan merasa perlu mengontrol segala aspek dari kehidupannya. Bahkan setelah anak itu sudah jauh beranjak dewasa dan ingin memiliki hidupnya sendiri.   Apa yang dialami oleh adik saya sekarang adalah contoh nyata yang bisa ambil pelajarannya. Nyokap sangat tidak rela adik saya keluar dari rumah dan punya kehidupan sendiri, karena terlalu dia pikirkan nyokap jadi gak mau makan sama sekali. Kondisi tubuhnya pun lemah, setelah empat kali bolak-balik rumah sakit, akhirnya dokter menyarankan untuk opname. Entah mengapa nyokap begitu berat melepaskan adik saya. Tidak semudah ia melepaskan saya untuk pergi ke manapun. Sebenernya sayapun sejak lama berstrat...

I will Grow Through This Pain

Saya tahu saya tidak pernah punya hak untuk merasa terluka. Posisi saya seolah membuat saya pasti salah, dan dengan demikian perasaan saya tidak penting dipertimbangkan.  Saya berusaha menyampaikan pesan itu, bahwa saya tidak sanggup ada dia di sekitar saya, makanya saya rela untuk tidak hadir dalam banyak acara. Atau menghilang tiba-tiba, mencari tempat yang paling aman.  Tapi kenapa harus saya yang menyingkir dari dunia yang harusnya milik saya.  Saya masih menggigil kalau mengingat beberapa tahun lalu,  saat itu berat badan saya menyusut drastis dan saat air mata tak henti  bertandang di pelupuk mata. Bahkan sampai saat ini teror itu masih memasuki mimpi saya, yang membuat saya terbangun dengan terkaget-kaget. Luka itu tak pernah hilang, tidak dengan perubahan sikapnya yang seolah tak pernah ada apa apa.  Saat itu saya merasa perasaan saya tak dihargai, dan bodohnya saya ulangi kembali. Saya sedikit berharap orang yang katanya peduli pada saya b...

Note To My Self : Jaga Jarak Aman

I ni sebenernya gak terlalu penting sih, tapi saya ingin tuliskan siapa tau pada suatu hari saya berubah. Satu hal yang saya pelajari dari hidup terkadang saya mengalamai trauma dalam berelasi dengan orang, entah itu pertemanan, percintaan atau dalam hal pekerjaan.  Untuk melindungi diri saya, biasanya saya menggunakan tips menjauh dari orang yang membuat saya trauma itu. Saya jaga jarak aman. Sebisa mungkin tidak berada dalam satu ruangan dalam waktu yang cukup lama dengan orang itu. Apalagi harus ngobrol berdua saja, wah mendingan saya pura-pura pingsan deh.  Tidak berarti saya bersikap jahat pada orang ini. Saya baik dan bergaul dengan dia, seperlunya saja. Kalau bisa dihindari. Susahnya, kalau orangnya kadang hadir di lingkaran kita, ya gimana menghindarinya. Jadi harus kreatif cari alasan untuk kabur atau tak hadir acara-acara yang sebetulnya ingin dihadiri. Tak apalah, yang penting tidak melihat mukanya. Belum pernah sampe pura-pura pingsan sih, itu jurus pamungkas sa...

Berkorban

Berkorban? Saya tidak suka kata itu. Sok heroic sekali.  Semua orang pasti berkoban di sini. Ada yang mengorbankan  waktu dengan keluarga karena rapat2 yang sampai malam, ada yg mengorbankan hasrat untuk belajar tapi terbentur dengan kerjaan manajerial yang menyita waktu, ada  yg mengorbankan waktu tidurnya karena deadline tiada henti. Semua berkorban. Jadi saya lebih senang menyebutnya memberi kontribusi Walaupun pilihan ini sungguh sungguh membuat saya terpusing-pusing dan terbengong-bengong, tapi saya ingin belajar dari sini.   Ini bukan saatnya merasa menjadi korban, tapi saatnya menantang diri sendiri. Bisakah saya menunaikannya   dengan luar bisa dan suka cita, itu tantangan saya. 

Perempuan Tegar

Aku akan selalu baik baik saja Setidaknya aku ingin seperti itu Tiap kali kau melihat diriku Aku ini perempuan tegar sayang Rasa sakit sudah menjadi kawan akrabku Aku menelannya dan membiarkan ia turun ke dadaku Mengiris dengan pisaunya yang paling tajam tanpa ampun Tapi tak ada yg perlu tahu Tidak juga dirimu Aku selalu sibuk dgn perasaan orang lain Tidak boleh ada yg merasakan sakit, kecuali aku Aku sanggup menanggungnya Tapi mereka,  belum tentu Walau kadang, tanpa kusadari air mata kesakitan mengalir deras Menyeruakan beban yang terlalu berat ku tanggung Hey, tapi ini aku.. Aku tak akan pernah mengakuinya Kau tau kenapa? Karena aku perempuan tegar sayang

Tangis

Saya  ini perempuan yang cengeng. Saya cepat sekali menangis. Saat terlalu senang saya menangis, saat jatuh cinta saya menangis, saat terharus saya menangis, apalagi saat sedih. Yang saya ingat, saya pernah menangis dua  hari berturut-turut saat SMA dulu. Entah dari mana datangnya air mata saya, rasanya banyak betul persediannya. Pengen rasanya menyumbangkan ke bang IRH yang matanya sakit karena kurang air mata. Menangis mungkin media saya mengeluarkan emosi yang paling ampuh. Habis itu biasanya saya sangat lega dan bisa menghadapi dunia. Kadang saya merasa kasihan dengan pasangan saya, pasti dia bingung harus berbuat apa saat saya menangis tanpa henti. Walaupun sebenernya saat seperti itu saya memang tidak butuh apa-apa kecuali pelukan hangat dan kecupan manis dari dia. Namun adakalanya saat  saya mengalami perasaan kesal tiada tara, tapi entah kenapa tidak bisa menangis. Beberapa kali ini terjadi, dan cukup membuat saya bingung.   Saya coba teliti dan hayati apa ...

Tidak Penting Cinta

Saya tidak pernah mencari tahu arti cinta Itu tidak penting buat saya Saya cukup merasakannya Dari rasa rindu yang tak tertahan ingin berjumpa Dan perasaan gembira tak terkira saat bersama Saya tidak pernah mencari tahu arti cinta Itu tidak penting buat saya Saya cukup merasakannya Saat semua menjadi baik-baik saja bila berdua Saat semua ide mengalir gegap gempita menghiasi dunia Saya tidak pernah mencari tahu arti cinta Itu tidak penting buat saya Saya cukup merasakannya Dari keinginan untuk tumbuh bersama Dan menorehkan makna pada semesta Saya tidak pernah mencari tahu arti cinta Itu tidak penting buat saya Saya cukup merasakannya Saat keberadanku mencerahkan dirimu dan keberadaanmu mencerahkan diriku Dan saat keberadaan "kita" mencerahkan dunia Itulah arti cinta