Skip to main content

Perempuan Tegar


Aku akan selalu baik baik saja
Setidaknya aku ingin seperti itu
Tiap kali kau melihat diriku

Aku ini perempuan tegar sayang
Rasa sakit sudah menjadi kawan akrabku
Aku menelannya dan membiarkan ia turun ke dadaku
Mengiris dengan pisaunya yang paling tajam tanpa ampun
Tapi tak ada yg perlu tahu
Tidak juga dirimu

Aku selalu sibuk dgn perasaan orang lain
Tidak boleh ada yg merasakan sakit, kecuali aku
Aku sanggup menanggungnya
Tapi mereka,  belum tentu

Walau kadang, tanpa kusadari air mata kesakitan mengalir deras
Menyeruakan beban yang terlalu berat ku tanggung
Hey, tapi ini aku..
Aku tak akan pernah mengakuinya

Kau tau kenapa?
Karena aku perempuan tegar sayang

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...