Skip to main content

I will Grow Through This Pain


Saya tahu saya tidak pernah punya hak untuk merasa terluka. Posisi saya seolah membuat saya pasti salah, dan dengan demikian perasaan saya tidak penting dipertimbangkan.  Saya berusaha menyampaikan pesan itu, bahwa saya tidak sanggup ada dia di sekitar saya, makanya saya rela untuk tidak hadir dalam banyak acara. Atau menghilang tiba-tiba, mencari tempat yang paling aman.  Tapi kenapa harus saya yang menyingkir dari dunia yang harusnya milik saya. 

Saya masih menggigil kalau mengingat beberapa tahun lalu,  saat itu berat badan saya menyusut drastis dan saat air mata tak henti  bertandang di pelupuk mata. Bahkan sampai saat ini teror itu masih memasuki mimpi saya, yang membuat saya terbangun dengan terkaget-kaget. Luka itu tak pernah hilang, tidak dengan perubahan sikapnya yang seolah tak pernah ada apa apa.  Saat itu saya merasa perasaan saya tak dihargai, dan bodohnya saya ulangi kembali. Saya sedikit berharap orang yang katanya peduli pada saya bisa menangkap perasaan terteror yang saya rasa. Tapi itu sudah saya coret dari harapan saya, saya tidak boleh mengandalkan siapapun kecuali diri saya sendiri. Saya yakin sampai kapanpun, sayalah yang akan diminta mengerti. Well, minggu ini saya belajar lagi, dengan cara menyakitkan. Tapi saya yakin ini membuat saya menjadi manusia yang lebih baik nantinya. 

Comments

Popular posts from this blog

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...

Sudah Sampai Di Mana Saya?

Satu tahun ini saya banyak berbicara pada diri saya, tentang apa saja. Ya, pandemi membuat semua ini mungkin. Banyak keputusan penting yang saya ambil pada satu tahun ini. Memutuskan untuk akhirnya berani melayangkan gugatan cerai, pindah rumah, serta keputusan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kepemimpinan di kantor. Mungkin ini adalah buah dari saya bicara dengan diri saya sendiri tadi. Saya merasa perlu melakukan orientasi ulang terhadap visi hidup, prioritas hidup serta yang paling penting menemukan kembali diri saya yang otentik.  Apa jalan saya selama ini salah? Apa saya menyesalinya? Akan ada di mana saya jika saja saya mengambil pilihan yang berbeda. Bagaimana jika saya tidak bekerja di lembaga tempat saya bekerja sekarang? Bagaimana jika saya tidak menikah dengan mantan saya? Bagaimana jika ini, jika itu, dan sebagainya.  Jawabannya, tidak. Saya tidak pernah menyesali satupun keputusan yang pernah saya ambil dalam hidup. Buat saya, semua adalah bagian dari hidup, y...