Skip to main content

Note To My Self : Jaga Jarak Aman


Ini sebenernya gak terlalu penting sih, tapi saya ingin tuliskan siapa tau pada suatu hari saya berubah. Satu hal yang saya pelajari dari hidup terkadang saya mengalamai trauma dalam berelasi dengan orang, entah itu pertemanan, percintaan atau dalam hal pekerjaan.  Untuk melindungi diri saya, biasanya saya menggunakan tips menjauh dari orang yang membuat saya trauma itu. Saya jaga jarak aman. Sebisa mungkin tidak berada dalam satu ruangan dalam waktu yang cukup lama dengan orang itu. Apalagi harus ngobrol berdua saja, wah mendingan saya pura-pura pingsan deh.  Tidak berarti saya bersikap jahat pada orang ini. Saya baik dan bergaul dengan dia, seperlunya saja. Kalau bisa dihindari. Susahnya, kalau orangnya kadang hadir di lingkaran kita, ya gimana menghindarinya. Jadi harus kreatif cari alasan untuk kabur atau tak hadir acara-acara yang sebetulnya ingin dihadiri. Tak apalah, yang penting tidak melihat mukanya. Belum pernah sampe pura-pura pingsan sih, itu jurus pamungkas saya..hahaha

Sebetulnya kondisi trauma ini agak jarang saya hadapi, hanya pada orang yang saya anggap tak termaafkan. Dan ini prosentasenya bisa 1: 500 orang, karena pada dasarnya saya orang yang pemaaf dan senang bertemu dan bercakap dengan banyak orang. Jadi kalau sampai saya trauma, itu biasanya sudah membekas luar biasa di hati saya sampai saya masih bergidik kalau mengingatnya. Coba kita lihat beberapa tahun ke depan. Bagaimana saya akan mengatasi trauma-trauma saya tersebut. Penasaran juga sih:p

Comments

Popular posts from this blog

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...

Sudah Sampai Di Mana Saya?

Satu tahun ini saya banyak berbicara pada diri saya, tentang apa saja. Ya, pandemi membuat semua ini mungkin. Banyak keputusan penting yang saya ambil pada satu tahun ini. Memutuskan untuk akhirnya berani melayangkan gugatan cerai, pindah rumah, serta keputusan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kepemimpinan di kantor. Mungkin ini adalah buah dari saya bicara dengan diri saya sendiri tadi. Saya merasa perlu melakukan orientasi ulang terhadap visi hidup, prioritas hidup serta yang paling penting menemukan kembali diri saya yang otentik.  Apa jalan saya selama ini salah? Apa saya menyesalinya? Akan ada di mana saya jika saja saya mengambil pilihan yang berbeda. Bagaimana jika saya tidak bekerja di lembaga tempat saya bekerja sekarang? Bagaimana jika saya tidak menikah dengan mantan saya? Bagaimana jika ini, jika itu, dan sebagainya.  Jawabannya, tidak. Saya tidak pernah menyesali satupun keputusan yang pernah saya ambil dalam hidup. Buat saya, semua adalah bagian dari hidup, y...