Tiba-tiba dia hadir lagi di hadapan saya. Tak ada isyarat
dan firasat. Di ujung penat yang
berusaha dilipurkan dengan gurauan.
Tubuhnya penuh luka-luka dari kenangan. Pun ia tak minta disembuhkan,
luka itu ia biarkan terbuka, tak berusaha juga menutupinya. Setahun lalu kami
berpisah tanpa sempat memberikan kecup perpisahan. Keadaan begitu kacau balau
dan dia mungkin bingung harus bagaimana. Saya penuh maklum membiarkannya pergi
dan sudah merelakan ia tak kembali. Malam
ini dia hadir lagi di hadapan saya, tidak untuk apa-apa kecuali kembali pada
posisinya dalam hidup saya. Waktu kadang
memang begitu baik hati untuk
mengembalikan hal-hal yang telah diambilnya. Selamat kembali lagi.
Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir. Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya, meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...
Comments