Skip to main content

Selamat Datang Kembali


Tiba-tiba dia hadir lagi di hadapan saya. Tak ada isyarat dan firasat.  Di ujung penat yang berusaha dilipurkan dengan gurauan.  Tubuhnya penuh luka-luka dari kenangan. Pun ia tak minta disembuhkan, luka itu ia biarkan terbuka, tak berusaha juga menutupinya. Setahun lalu kami berpisah tanpa sempat memberikan kecup perpisahan. Keadaan begitu kacau balau dan dia mungkin bingung harus bagaimana. Saya penuh maklum membiarkannya pergi dan sudah merelakan ia tak kembali.  Malam ini dia hadir lagi di hadapan saya, tidak untuk apa-apa kecuali kembali pada posisinya dalam hidup saya.  Waktu kadang memang begitu baik hati  untuk mengembalikan hal-hal yang telah diambilnya. Selamat kembali lagi. 

Comments

Amalia Puri said…
Dan, kadang waktu juga terlalu baik untuk mengambil ilusi.

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...