Tiba-tiba dia hadir lagi di hadapan saya. Tak ada isyarat
dan firasat. Di ujung penat yang
berusaha dilipurkan dengan gurauan.
Tubuhnya penuh luka-luka dari kenangan. Pun ia tak minta disembuhkan,
luka itu ia biarkan terbuka, tak berusaha juga menutupinya. Setahun lalu kami
berpisah tanpa sempat memberikan kecup perpisahan. Keadaan begitu kacau balau
dan dia mungkin bingung harus bagaimana. Saya penuh maklum membiarkannya pergi
dan sudah merelakan ia tak kembali. Malam
ini dia hadir lagi di hadapan saya, tidak untuk apa-apa kecuali kembali pada
posisinya dalam hidup saya. Waktu kadang
memang begitu baik hati untuk
mengembalikan hal-hal yang telah diambilnya. Selamat kembali lagi.
Gue merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan hal dalam pekerjaan gue sebagai peneliti. Dari sidang tahunan MPR yang gegap gempita, rapat dengar pendapatnya DPR /DPRD, ketemu para petani, nelayan, kepala desa, dsb. Kemaren, untuk pertama kalinya gue ikut dalam sidang sebuah perkara waris di pengadilan agama mataram. Waktu Mark bilang ke gue bahwa tipikal hakim-hakim pengadilan agama di daerah itu tulus-tulus dan baik, gue tidak segera menerima pendapatnya. Yang ada di kepala gue, hakim pengadilan agama itu pasti patriarki dan bias gender...huhu, parahnya gue. Gue sudah memberikan penilaian tanpa pernah sekalipun berhubungan dengan mereka. Padahal ini adalah satu hal yang paling dilarang saat kita ingin berjaringan, gue ingat betul BS menekankan ini saat sharing pengalaman soal networking (Thanks bip). Sidang kemarin sungguh berharga buat gue, disamping mendapat banyak kenalan dari ibu-ibu yang sedang mendaftarkan perceraian gue juga tau betapa beratnya menjadi hakim...
Comments