Skip to main content

Beri Saja Waktuku


Mungkin semakin lama saya semakin egois. Saya marah pada diri saya sendiri karena rencana saya begitu kacau balau karena adik saya sakit. Saya memang tidak bisa mengharapkan orang lain selain diri saya sendiri untuk mengurus dia. Siapa lagi?  Rencana kepergian ke Sulsel menjadi batal dan saya tetap tidak bisa hadir menemani suami saya di acara kantornya. Tadinya saya korbankan acara itu karena Sulsel. Ya, itupun dengan alasan yang sama, siapa lagi kalau bukan saya?  Untung saja orang Sulsel mau mengundurkan jadual sehingga pa Gir dan FNS bisa pergi. Dengan jadual yang berubah saya tidak mungkin pergi ke Sulsel, karena perlu ada SP yayasan. Saya lelah sekali harus membagi diri saya dengan keluarga di ragunan, suami saya di Sumbawa dan pekerjaan. 

Walhasil liburan ini, saya betul-betul tidak mau diganggu dengan urusan apapun. Saya ingin diri saya sendiri, tanpa harus ada tanggung jawab apapun, menikmati waktu saya kemanapun dengan siapapun. Apa mau di kata, lama hidup sendiri, membuat saya terbiasa bebas menentukan jadual saya sendiri. Tidak perlu menentukan pulang jam berapa, bangun jam berapa atau bahkan tidak pulang sekalipun, tidak ada yang menanyakan saya. Jadi, terikat  dan bertanggung jawab terhadap sesuatu kadang sangat mengerikan buat saya. Tidak selalu. Tapi sering.

Saya memang marah pada diri saya sendiri, karena tidak bisa melepaskan diri dari semuanya.   

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...