Skip to main content

kupu kupu ku


“Rasanya tidak ada yang lebih baik dari ini. Memelukmu. Bercerita tentang apa saja. Dan secangkir teh melati kesukaanku”, ucapku sambil terus bersandar pada pundaknya yang seharian ini telah menjadi tempatku menangis.

“Heii, aku adalah jin dalam botol buatmu. Aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku. Tujuh hari seminggu, 24 jam sehari” ia menatapku dengan mata jenakanya.

Aku tahu,  ucapku lirih dalam hati. Aku hanya tak ingin menyakitimu. Aku tak pernah bisa memberikan yang sebanding dari yang engkau berikan. Membuatmu melakukan semua ini untukku adalah hal terakhir yang ingin kulakukan. Hanya kali ini, aku tak bisa lagi menahan rasa sesak di dada ini.

Aku membutuhkan dia.   Dia yang memiliki kupu-kupu kebahagianku. Semua ada padanya. Aku pernah mencarinya di banyak laki-laki lain. Tapi hanya dia yang mampu membuat duniaku yang jungkir balik menjadi indah berselimut pelangi.

“Kok jadi melamun. Ada yang masih melayang-layang di semestamu, peri kecil” dia ucapkan perlahan dengan suara baritonnya

Aku menggeleng. “aku cuma bahagia. Terima kasih untuk semua ini”,  sambil ku kecup pipinya

“Mari kita masuk, sayang. Udara di luar sudah mulai dingin".

Aku berdiri, berjalan memasuki tenda mengikuti kupu-kupuku. 

Comments

Popular posts from this blog

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...

Sudah Sampai Di Mana Saya?

Satu tahun ini saya banyak berbicara pada diri saya, tentang apa saja. Ya, pandemi membuat semua ini mungkin. Banyak keputusan penting yang saya ambil pada satu tahun ini. Memutuskan untuk akhirnya berani melayangkan gugatan cerai, pindah rumah, serta keputusan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kepemimpinan di kantor. Mungkin ini adalah buah dari saya bicara dengan diri saya sendiri tadi. Saya merasa perlu melakukan orientasi ulang terhadap visi hidup, prioritas hidup serta yang paling penting menemukan kembali diri saya yang otentik.  Apa jalan saya selama ini salah? Apa saya menyesalinya? Akan ada di mana saya jika saja saya mengambil pilihan yang berbeda. Bagaimana jika saya tidak bekerja di lembaga tempat saya bekerja sekarang? Bagaimana jika saya tidak menikah dengan mantan saya? Bagaimana jika ini, jika itu, dan sebagainya.  Jawabannya, tidak. Saya tidak pernah menyesali satupun keputusan yang pernah saya ambil dalam hidup. Buat saya, semua adalah bagian dari hidup, y...