Skip to main content

Here and There

Bukan, ini bukan tentang lagu beatles. Ini tentang pemadaman listrik yang sempat membuat panik beberapa orang Jakarta. Lalu saya mengingat malam-malam saya disana...di Sumba, di Buton, di Simeulue..dan di beberapa tempat lain di Indonesia. Malam yang seringkali hanya dihiasi oleh bintang dan bulan. Bahkan saat sebuah sepeda motor melintas, kita dapat melihatnya dengan jelas. Itu terjadi setiap hari...berulang...dan berulang. Kemudian saya mengingat kembali malam saya di sini...di sebuah apartemen di kuningan, milik pengembang yang juga seorang menteri. Saat semua begitu terang benderang..semua lampu menyala. Bahkan di gedung yang belum digunakan. Lalu saya teringat lagi di sana...dan...di sini..
Saya tidak bisa berkata apa-apa... beginikah dunia bekerja?

Comments

Darlington Gank said…
selamat menempuh hidup baru yang lebih menyenangkan ya Ni... Salam untuk suami..
Hai val
Thanks ya.. Pasti lebih menyenangkan. Dateng ke rumah gue ya nanti kalo ke Lombok.

Popular posts from this blog

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...

Sudah Sampai Di Mana Saya?

Satu tahun ini saya banyak berbicara pada diri saya, tentang apa saja. Ya, pandemi membuat semua ini mungkin. Banyak keputusan penting yang saya ambil pada satu tahun ini. Memutuskan untuk akhirnya berani melayangkan gugatan cerai, pindah rumah, serta keputusan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kepemimpinan di kantor. Mungkin ini adalah buah dari saya bicara dengan diri saya sendiri tadi. Saya merasa perlu melakukan orientasi ulang terhadap visi hidup, prioritas hidup serta yang paling penting menemukan kembali diri saya yang otentik.  Apa jalan saya selama ini salah? Apa saya menyesalinya? Akan ada di mana saya jika saja saya mengambil pilihan yang berbeda. Bagaimana jika saya tidak bekerja di lembaga tempat saya bekerja sekarang? Bagaimana jika saya tidak menikah dengan mantan saya? Bagaimana jika ini, jika itu, dan sebagainya.  Jawabannya, tidak. Saya tidak pernah menyesali satupun keputusan yang pernah saya ambil dalam hidup. Buat saya, semua adalah bagian dari hidup, y...