Skip to main content

Kopi Pekat Bikin Dekat

Apa yang masih bisa kita pertahankan, selain percumbuan panas di atas ranjang? Kau dan aku tahu, kita  tak bisa lagi seperti dulu. Aku yang sering menuntut dan menyalahkanmu, dan kau yang lupa banyak hal tentang aku. Kopi yang dulu mendekatkan kita. Dari setiap cangkir yang kita minum bersama, jiwa kita mendekat satu depa. Kita sudah seperti dua jiwa di tubuh yang sama. Apa yang kau pikir dan rasakan, selalu hampir sama dengan apa yang ku pikir dan rasakan. 

Aku lupa kapan tepatnya kopi pergi dari kita. Kita kehilangan perekat. Kau mencoba mengganti dengan perekat-perekat lain, tapi kau tahu itu tak akan berhasil. Kopi sudah meninggalkan kita, mungkin itulah tandanya. 

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...