Skip to main content

Saya Bukan Ancaman


Perempuan yang sedang menggebet laki-laki memang sering melakukan tingkah yang aneh. Mungkin begitu juga sebaliknya, tapi laki-laki  sering berhasil menutupinya demi menjaga image. Saya mengalami beberapa peristiwa di mana seorang perempuan sengaja menjatuhkan perempuan lain di depan laki-laki yang sedang ia gebet. Walaupun sebetulnya perempuan lain itu sama sekali bukan saingannya. Saya misalnya, dari sisi manapun saya bukanlah saingan seorang perempuan muda yang sedang mencari kekasih. Saya sudah tidak muda lagi, ya usia saya hampir mencapai 40, saya sudah bersuami, dan saya tidak pernah tertarik mencari kekasih. Jadi rasanya tidak perlu jika harus mengeluarkan segala hal tentang saya hanya untuk memastikan bahwa saya bukanlah target sang lelaki.  Saya menjadi lebih jengkel dalam situasi saya kurang akrab dengan laki-laki itu, untuk apa segala hal tentang pribadi saya dijembreng di depan mata. Ah entahlah, mungkin saya dirasakan mengancam. Saya pastikan, saya bukan ancaman. 

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...