Skip to main content

Tangis Pagi dan Malam


Saya pikir selama ini saya orang yang terbuka
Tapi rasanya saya perlu mengkoreksinya
Saya sering menyimpan dalam kesedihan-kesedihan saya
Membaginya pada malam, dan berharap ia tak menceritakannya pada pagi

Tapi malam sering berkhianat, diam-diam ia bercerita pada pagi
Pagi kembali mengingatkan saya pada kesedihan-kesedihan itu
Lalu saya menangis pada pagi
Dan lalu saya menangis pada malam
Mereka berdua sepertinya sudah jengkel melihat saya menangis

Lalu saya harus menangis pada siapa?
Malam menyarankan pada siang, dan pagi menyarankan pada sore
Lalu saya berkata, “itu waktu saya tertawa. Tidak kah kalian ingin melihat saya tertawa?”

Malam dan pagi memandang saya iba
Mereka janji tak mengkhianati saya lagi

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...