Skip to main content

888


Minggu ini sungguh berat buat kami. Pertemuan kami yang hanya dua bulan sekali inipun tak dapat sepenuhnya kami nikmati. Kami harus siang malam ke rumah sakit menjaga Ibuk. 

Kami punya cara sendiri untuk menikmati kebersamaan. Ritual minum teh di teras rumah setiap pagi dan sore sambil berbincang tentang hal-hal lucu. Malam hari, sebelum tidur kami saling membacakan puisi.  Puisi apa saja, bergantian kami baca.

Saya beruntung ada dia disamping saya, saat dunia saya sedang jungkir balik dan perasaan saya campur aduk.  Entah karena ada dia saya tenang, atau karena dia yang tenang saya jadi ikut terbawa tenang. Saya rasa kami memang pasangan yang tangguh dalam menghadapi badai.  Beberapa kali kami mengalami masa genting. Tapi selalu bisa kami ubah air mata itu menjadi tawa. Mertua saya pun menyatakan kekagumannya pada kami. Semoga selalu begitu. Semoga kami bisa selalu tumbuh bersama. 

888 saat ini sudah empat tahun. Selamat untuk kita. 

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...