Skip to main content

Biarkan

Gue menangis kemarin. Gue pun masih menangis hari ini. Sakit sekali rasanya, lebih sakit daripada memergoki pacar gue selingkuh. Pun lebih sakit dari kalau gue dipecat dari kantor. Gue sudah lama tidak menangis, terakhir gue ingat saat gue keguguran kemarin. Jadi pasti ada sesuatu yang hebat yang membuat gue seperti ini.

Di sini, di organisasi ini, gue merasa tidak boleh ada yang mengganggap dirinya pemberi kerja kepada yang lain. Di sini, kita bekerja sama. Susah senang, malang melintang, jelek bagus, semua kita jalani bersama. Sekarang, semua paradigma yang ada dikepala gue itu hancur lebur. Gue hanya dipandang sebesar apa gue dibayar. Gue marah besar.

Cinta gue pada organisasi ini, tidak bisa disamakan dengan itu semua. Tidak dengan apapun. Silahkan ambil semua bayaran yang diberikan ke gue, tapi gue tidak akan pernah berhenti bekerja untuknya.

Biarkan gue marah, biarkan gue menangis. Bahkan itu semua tidak sebanding dengan rasa sakit yang gue rasakan.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Sidang

Gue merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan hal dalam pekerjaan gue sebagai peneliti. Dari sidang tahunan MPR yang gegap gempita, rapat dengar pendapatnya DPR /DPRD, ketemu para petani, nelayan, kepala desa, dsb. Kemaren, untuk pertama kalinya gue ikut dalam sidang sebuah perkara waris di pengadilan agama mataram. Waktu Mark bilang ke gue bahwa tipikal hakim-hakim pengadilan agama di daerah itu tulus-tulus dan baik, gue tidak segera menerima pendapatnya. Yang ada di kepala gue, hakim pengadilan agama itu pasti patriarki dan bias gender...huhu, parahnya gue. Gue sudah memberikan penilaian tanpa pernah sekalipun berhubungan dengan mereka. Padahal ini adalah satu hal yang paling dilarang saat kita ingin berjaringan, gue ingat betul BS menekankan ini saat sharing pengalaman soal networking (Thanks bip). Sidang kemarin sungguh berharga buat gue, disamping mendapat banyak kenalan dari ibu-ibu yang sedang mendaftarkan perceraian gue juga tau betapa beratnya menjadi hakim...

Menyusuri Jalan Cinta

Bagi insan yang sedang berkasih kasihan, pilihan moda tranportasi bisa menjadi keseruan tersendiri.  Berkaca dari pengalaman, saya termasuk orang yang senang mencoba berbagai alat transportasi saat sedang berkasih-kasihan.  Begini kira-kira perasaan yang mewarnai dalam jalan-jalan cinta saya.  Kereta Api Berpegian dengan kekasih dengan lereta api menghadirkan perasaan yang aneh bagi saya, saat kami berdua merasa memiliki ruang privat sekaligus bersinggungan dengan publik.  Kalau perjalanan di lakukan saat siang hari perasaan yang hadir lebih seperti seolah saya bergandengan tangan dengannya sambil menembus lorong waktu. Saat malam dan tidak terlihat apapun, yang hadir lebih seperti hangat dan nyaman, sesekali mencuri kesempatan mengecup pipi kekasih. Tentu saja kalau penumpang lain sudah mulai tertidur. Sepeda Motor Untuk para laki-laki dan perempuan yang kekasihnya sedang murka, ajaklah ia naik sepeda motor. Ini pengalaman saya, semarah apapun saya den...