Skip to main content

Biarkan

Gue menangis kemarin. Gue pun masih menangis hari ini. Sakit sekali rasanya, lebih sakit daripada memergoki pacar gue selingkuh. Pun lebih sakit dari kalau gue dipecat dari kantor. Gue sudah lama tidak menangis, terakhir gue ingat saat gue keguguran kemarin. Jadi pasti ada sesuatu yang hebat yang membuat gue seperti ini.

Di sini, di organisasi ini, gue merasa tidak boleh ada yang mengganggap dirinya pemberi kerja kepada yang lain. Di sini, kita bekerja sama. Susah senang, malang melintang, jelek bagus, semua kita jalani bersama. Sekarang, semua paradigma yang ada dikepala gue itu hancur lebur. Gue hanya dipandang sebesar apa gue dibayar. Gue marah besar.

Cinta gue pada organisasi ini, tidak bisa disamakan dengan itu semua. Tidak dengan apapun. Silahkan ambil semua bayaran yang diberikan ke gue, tapi gue tidak akan pernah berhenti bekerja untuknya.

Biarkan gue marah, biarkan gue menangis. Bahkan itu semua tidak sebanding dengan rasa sakit yang gue rasakan.

Comments

Popular posts from this blog

Jawaban Dari Cinta

Mungkin kita memang melampaui kata Memaksa dunia melontarkan ribuan tanda tanya Kita menjawabnya hanya dengan tertawa-tawa Padamu aku mengerti artinya benar mencinta Membiarkan diri terbawa arus yang membawa entah kemana Tanpa takut menggelorakan semua Hati kita saling meminta Tubuh kita saling memuja Kita sudah membuat bait pembuka Aku yakinkan diri menulis bait-bait selanjutnya

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...