Skip to main content

My Very Best Friend



Gue selalu menyimpan kekaguman pada teman gue yang satu ini. Dia adalah teman terbaik yang pernah gue miliki. Walaupun gue baru akrab dengan dia selepas gue kuliah, tapi banyak hal yang bisa menyatukan kita berdua. Kita sama-sama suka jalan-jalan, sama-sama suka ngopi dan sama-sama ngga suka ribut-ribut, sama-sama suka karaoke, sama-sama punya cita-cita melakukan suatu hal kongkrit untuk pengentasan kemiskinan.

Dia selalu menjadi pilihan pertama gue saat gue butuh pertolongan. Dia tidak pernah sok idealis, tapi dia sangat idealis. Dia tidak pernah sok baik, tapi dia memang baik. Dia gak pernah sok pinter, tapi dia memang pinter. Dia akan rela melakukan apapun untuk membantu gue. Dia orang yang ada disisi gue saat gue susah. Dia yang menghibur gue saat gue menangis. Dia sangat tulus. Tulus tanpa pamrih. Gue bisa merasakannya dan kalo elo mengenal dia, elo juga pasti bisa merasakannya.


Nb: Deassy, tulisan ini buat elo. Yes, you are my very best friend. Tetap semangat ya Des mengejar mimpi-mimpi lu. Semoga kita bisa mewujudkan mimpi kita bersama suatu saat nanti.

Comments

Popular posts from this blog

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...

Sudah Sampai Di Mana Saya?

Satu tahun ini saya banyak berbicara pada diri saya, tentang apa saja. Ya, pandemi membuat semua ini mungkin. Banyak keputusan penting yang saya ambil pada satu tahun ini. Memutuskan untuk akhirnya berani melayangkan gugatan cerai, pindah rumah, serta keputusan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kepemimpinan di kantor. Mungkin ini adalah buah dari saya bicara dengan diri saya sendiri tadi. Saya merasa perlu melakukan orientasi ulang terhadap visi hidup, prioritas hidup serta yang paling penting menemukan kembali diri saya yang otentik.  Apa jalan saya selama ini salah? Apa saya menyesalinya? Akan ada di mana saya jika saja saya mengambil pilihan yang berbeda. Bagaimana jika saya tidak bekerja di lembaga tempat saya bekerja sekarang? Bagaimana jika saya tidak menikah dengan mantan saya? Bagaimana jika ini, jika itu, dan sebagainya.  Jawabannya, tidak. Saya tidak pernah menyesali satupun keputusan yang pernah saya ambil dalam hidup. Buat saya, semua adalah bagian dari hidup, y...