Skip to main content

My Very Best Friend



Gue selalu menyimpan kekaguman pada teman gue yang satu ini. Dia adalah teman terbaik yang pernah gue miliki. Walaupun gue baru akrab dengan dia selepas gue kuliah, tapi banyak hal yang bisa menyatukan kita berdua. Kita sama-sama suka jalan-jalan, sama-sama suka ngopi dan sama-sama ngga suka ribut-ribut, sama-sama suka karaoke, sama-sama punya cita-cita melakukan suatu hal kongkrit untuk pengentasan kemiskinan.

Dia selalu menjadi pilihan pertama gue saat gue butuh pertolongan. Dia tidak pernah sok idealis, tapi dia sangat idealis. Dia tidak pernah sok baik, tapi dia memang baik. Dia gak pernah sok pinter, tapi dia memang pinter. Dia akan rela melakukan apapun untuk membantu gue. Dia orang yang ada disisi gue saat gue susah. Dia yang menghibur gue saat gue menangis. Dia sangat tulus. Tulus tanpa pamrih. Gue bisa merasakannya dan kalo elo mengenal dia, elo juga pasti bisa merasakannya.


Nb: Deassy, tulisan ini buat elo. Yes, you are my very best friend. Tetap semangat ya Des mengejar mimpi-mimpi lu. Semoga kita bisa mewujudkan mimpi kita bersama suatu saat nanti.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Sidang

Gue merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan hal dalam pekerjaan gue sebagai peneliti. Dari sidang tahunan MPR yang gegap gempita, rapat dengar pendapatnya DPR /DPRD, ketemu para petani, nelayan, kepala desa, dsb. Kemaren, untuk pertama kalinya gue ikut dalam sidang sebuah perkara waris di pengadilan agama mataram. Waktu Mark bilang ke gue bahwa tipikal hakim-hakim pengadilan agama di daerah itu tulus-tulus dan baik, gue tidak segera menerima pendapatnya. Yang ada di kepala gue, hakim pengadilan agama itu pasti patriarki dan bias gender...huhu, parahnya gue. Gue sudah memberikan penilaian tanpa pernah sekalipun berhubungan dengan mereka. Padahal ini adalah satu hal yang paling dilarang saat kita ingin berjaringan, gue ingat betul BS menekankan ini saat sharing pengalaman soal networking (Thanks bip). Sidang kemarin sungguh berharga buat gue, disamping mendapat banyak kenalan dari ibu-ibu yang sedang mendaftarkan perceraian gue juga tau betapa beratnya menjadi hakim...

Menyusuri Jalan Cinta

Bagi insan yang sedang berkasih kasihan, pilihan moda tranportasi bisa menjadi keseruan tersendiri.  Berkaca dari pengalaman, saya termasuk orang yang senang mencoba berbagai alat transportasi saat sedang berkasih-kasihan.  Begini kira-kira perasaan yang mewarnai dalam jalan-jalan cinta saya.  Kereta Api Berpegian dengan kekasih dengan lereta api menghadirkan perasaan yang aneh bagi saya, saat kami berdua merasa memiliki ruang privat sekaligus bersinggungan dengan publik.  Kalau perjalanan di lakukan saat siang hari perasaan yang hadir lebih seperti seolah saya bergandengan tangan dengannya sambil menembus lorong waktu. Saat malam dan tidak terlihat apapun, yang hadir lebih seperti hangat dan nyaman, sesekali mencuri kesempatan mengecup pipi kekasih. Tentu saja kalau penumpang lain sudah mulai tertidur. Sepeda Motor Untuk para laki-laki dan perempuan yang kekasihnya sedang murka, ajaklah ia naik sepeda motor. Ini pengalaman saya, semarah apapun saya den...