Skip to main content

Suara-suara dalam Busway

Pulang kerja, naek busway. Gue berusaha tidur karena kayaknya capek banget, jam 20.30 gue baru keluar dari kantor. Kok gue gak bisa tidur, udah berusaha tapi ada suara-suara rame mendengung di sekeliling gue. Di depan gue ada mbak-mbak gitu, berdua ama temenya pake jilbab lagi curhat tentang kerjaan kantor dengan bersemangat. Di sebelah gue, juga ada mba-mbak dan temannya. Topik yang sama, soal pekerjaan dan teman-teman kantor. Di samping kiri gue, sama juga. Arrggghhh.... Pusing!!

Dari hasil nguping gue atas pembicaraan mereka, gue kemudian sok-sok berefleksi. Ternyata sebagian besar orang tidak menyukai pekerjaan mereka dan juga tentu saja rekan-rekan kerja mereka. Kok mereka tahan ya... Gue aja yang teman-teman kantor gue menyenangkan, ya walaupun ada satu-dua orang yang mengjengkelkan, tetap aja gue mulai merasa bete di kantor. Jadi apa ya yang mereka harapkand dari bekerja? Uang? Ya tentu saja. Tapi selain uang? Sesuatu yang membuat kita bersemangat datang ke kantor, bersemangat memberikan yang terbaik buat pekerjaan kita.

Kalau kita menyukai pekerjaan kita maka tanpa diminta kita akan memberikan nilai lebih terhadap apa yang kita kerjakan. Pekerjaan itu sekarang sedang gue cari...

Comments

Popular posts from this blog

2018

  Saat hendak menulis refleksi ini, saya baru tersadar payah sekali saya dalam beberapa tahun terakhir.   Harusnya blog ini diganti saja namanya menjadi Catatan Tahunan, karena sebenar-benarnya saya hanya menulis satu kali dalam setahun J . Tapi saya orang yang sangat pemaaf terhadap kesalahan saya sendiri..hahaha. Jadi, biarkan saja lah, siapa tahu suatu saat nanti saya kembali rajin menulis, kan? 2018 tahun yang berat buat saya karena satu hal, kehilangan kakak perempuan saya satu-satunya. Dia adalah sebenar-benarnya role model saya dalam hidup. Sejak kecil saya sering mengamati tingkah lakunya, mencoba gaya dandanannya,   meneladani kekerasan hatinya. Saya mengagguminya dalam diam. Dengan segala beban yang ia pikul dipundaknya, dia menunjukan ketegarannya pada setiap orang. Dengan kanker yang terus menggerogoti tubuhnya, membesarkan dua anak yang sedang kuliah, sekaligus menjadi tulang pungguh keluarga. Bagaimana bisa saya berkeluh kesah, kar...

Sudah Sampai Di Mana Saya?

Satu tahun ini saya banyak berbicara pada diri saya, tentang apa saja. Ya, pandemi membuat semua ini mungkin. Banyak keputusan penting yang saya ambil pada satu tahun ini. Memutuskan untuk akhirnya berani melayangkan gugatan cerai, pindah rumah, serta keputusan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kepemimpinan di kantor. Mungkin ini adalah buah dari saya bicara dengan diri saya sendiri tadi. Saya merasa perlu melakukan orientasi ulang terhadap visi hidup, prioritas hidup serta yang paling penting menemukan kembali diri saya yang otentik.  Apa jalan saya selama ini salah? Apa saya menyesalinya? Akan ada di mana saya jika saja saya mengambil pilihan yang berbeda. Bagaimana jika saya tidak bekerja di lembaga tempat saya bekerja sekarang? Bagaimana jika saya tidak menikah dengan mantan saya? Bagaimana jika ini, jika itu, dan sebagainya.  Jawabannya, tidak. Saya tidak pernah menyesali satupun keputusan yang pernah saya ambil dalam hidup. Buat saya, semua adalah bagian dari hidup, y...