Skip to main content

Posts

Kopi Pekat Bikin Dekat 2

Malam itu dia datang lagi, mengetuk pintu kamarku sambil membawa secangkir kopi. Sudah lama aku biarkan dia menunggu di depan pintu. Aku bertahan dengan kopiku yg tinggal ampas-ampasnya saja. Makin lama makin hambar kurasakan. Malam itu aku tak tahan lagi, aku perlu kopi. Kopinya.

Kopi Pekat Bikin Dekat

Apa yang masih bisa kita pertahankan, selain percumbuan panas di atas ranjang? Kau dan aku tahu, kita  tak bisa lagi seperti dulu. Aku yang sering menuntut dan menyalahkanmu, dan kau yang lupa banyak hal tentang aku. Kopi yang dulu mendekatkan kita. Dari setiap cangkir yang kita minum bersama, jiwa kita mendekat satu depa. Kita sudah seperti dua jiwa di tubuh yang sama. Apa yang kau pikir dan rasakan, selalu hampir sama dengan apa yang ku pikir dan rasakan.  Aku lupa kapan tepatnya kopi pergi dari kita. Kita kehilangan perekat. Kau mencoba mengganti dengan perekat-perekat lain, tapi kau tahu itu tak akan berhasil. Kopi sudah meninggalkan kita, mungkin itulah tandanya. 

Ibu

Pada usia berapa kita siap untuk kehilangan ibu? Setelah mengalaminya, jawaban saya “tidak akan pernah siap”. Ibu sudah bertahun-tahun sakit, usia saya juga sudah lebih dari 40 tahun tetap saja dunia berantakan saat ibu pergi.   Di depan keluarga dan teman-teman saya mungkin terlihat biasa saja, tegar. Itu dengan sengaja saya lakukan untuk menguatkan adik dan ayah saya. Ayah saya selalu merasa lebih baik bila ada saya, karena saya terlihat paling tenang saat detik-detik kepergian ibu saya.   Dengan dingin saya harus memutuskan banyak hal melalui diskusi dengan dokter. Kakak dan adik saya sudah tidak ada yang sanggup bertemu dokter, mereka menyerahkan semua ke saya.   Saya yang menandatangani semua berkas-berkas itu; berkas persetujuan pemasangan ventilator, berkas penolakan tindakan pompa jantung sampai berkas persetujuan pencopotan ventilator dan surat kematian ibu saya. Saya simpan kesedihan saya pada malam-malam sesudahnya.   Saya menangis tak he...

2014

Ini sebetulnya tulisan basa-basi, sekadar sebagai tradisi. Basa-basipun harus terlihat seperti asli, bukan?  Jadi ini yang saya petik dari pepohonan rindang 2014. 1. Secara keseluruhan perasaan saya lebih bahagia, sebagian besar karena Red menemani saya di rumah. Saya menikmati rutinitas di pagi hari  bersama Red. Menyiram dan mengobrol dengan pohon dan bunga di rumah, membuat kopi dan pisang goreng, serta membuat satu-dua bait puisi.  Saya juga punya teman ke mana-mana, biasanya saya biasa soliter dan mengurus diri sendiri. Kami banyak bepergian dan bertualang dan bersenang-senang. Hal yang cukup menyenangkan adalah ada orang yang mengantar saya ke rumah sakit saat badan sedang tak mampu bangun. Well, biasanya saya selalu pergi sendirian atau kadang diantar teman.  2.  Saya melihat banyak orang berdiskusi tentang uang, tapi bukan tentang ide. Banyak orang bikin ini itu, tapi tujuannya semua cari uang. Sungguh bikin saya mati rasa pada orang-orang seperti...

Dua Orang Gila

Kewarasan sudah terlalu merajalela Kamu dan aku makin lama makin tak tahan dengan dunia Hidup macam apa jika untuk senang kau perlu uang Untuk maju kau perlu meninju Untuk tertawa kau perlu banyak harta Kamu dan aku merasa tak perlu apa-apa Kita mencukupkan diri untuk kegilaan kita Aku minum dari sumur gilamu, tanpa berharap warasku Kaupu begitu Dua orang gila memang harus bertemu Dua orang gila setuju

Dewa Kata

Kejutan hidup lagi-lagi membuat saya terganga. Kali ini dalam wujud kata-kata. Kata-kata yang banyak yang mengaliri sungai kering saya.  Perahu saya jadi bisa melaju kencang, diantara denyut tanda baca dan ribuan mantra. Terimakasih dewa kata. Saya terpuja.