Skip to main content

Posts

She Think...

Beberapa bulan belakangan gue mengamati cara berpikir seseorang. Dulu gue tidak terlalu memperhatikannya, tapi belakangan ini cara pikir seseorang ini begitu menarik untuk gue renungkan. Kalau kita perhatikan, maka ia terlihat seperti orang yang tidak bersyukur, orang yang tidak menikmati hidup. Pandangannya tentang hidup melulu diwarnai oleh kesulitan, yang terkadang membuat kita (atau gue paling tidak) merasa ngeri untuk melangkah melalui jejak yang sama dengan yang pernah ia lalui. Selalu ada kata yang dalam istilah anak-anak vibrant "negatif", tidak inspiring. Sepertinya hidup ya seperti itu..tidak bisa dirubah. Mungkin dia cuma mencoba realistis dengan situasi yang ada, tidak mau terjebak dalam imaginasi tentang kehidupan yang indah dan penuh bunga. Mungkin ini yang membedakannya 180 derajad dengan gue. Gue selalu menganggap hidup gue indah, apapun situasinya. Gue mencoba realistis dengan apa yang gue hadapi sekarang, tapi gue tak pernah berhenti bermimpi tentang kehidup...

Puasa di Pe Es Ha Ka

Udah delapan tahun gue melewati bulan ramadhan di Pe Es Ha Ka. Tidak banyak yang berubah, lontong dan es masih jadi hidangan utama. Sesekali diselingi oleh "sesuatu" yang sedikit berbeda, misalnya serabi solo atau martabak kubang. Yang berbeda tahun ini adalah jumlah peminat yang berbuka puasa di kantor, sangat menurun drastis. Paling banyak antara 10-12 orang, gabungan anak Leip da Pe Es Ha Ka. Anak-anak yang buka di kantor juga relative lebih pasrah dari tahun lalu, gak neko-neko. Masih inget khan ama Qiki yang protes akan variasi menu, dan membantu Uki buat daftar menu selama sebulan..he..he... Tahun ini, semua nrimo dengan riang gembira apapun yang disediakan oleh Uki. Ya complain dikit-dikitlah soal sambel yang kurang pedes dsb. Tahun ini juga (karena kehadiran gepede), frekuensi buka di luar juga lebih sering. Kwetiau apcai, bakmi senjaya dan rencananya hari ini adalah Nasi Uduk Cikini. Kita juga sempet buka di Penang Bistro atas biaya Om Soros, enak banget. EN sampe m...

Tentang Gue

Langkah Kecil Kami

" Jadi elo nikah ama orang Sumbawa Ni" "Trus, kerjaan elo gimana, sayang lagi" " Yakin lu betah, elo khan anak kota banget" Ada suara-suara itu bergema dalam keseharian gue, dalam alam sadar gue, juga dalam alam bawah sadar gue. Gue tidak menganggapnya sebagai sebuah hambatan, tapi justru membantu gue untuk secara jernih memikirkan semuanya. Gue memang bertekad untuk pindah ke Mataram awal tahun depan, sebagai gue, sebagai istri. Soal bagaimana gue akan hidup, tidak pernah gue cemaskan. Gue memang tidak pernah mencemaskan masa depan, tidak pernah mencemaskan soal karier. Saat gue hidup dengan nilai-nilai yang gue percayai, itulah letak kebahagiaan gue. Satu hal yang selalu gue percaya, gue orang yang beruntung. Pekerjaan selalu datang sendiri ke gue, bahkan sering gue tolak karena gue merasa ada yang lebih berhak. Rejeki juga sering datang ke gue dengan cara yang tidak pernah gue duga. Gue sudah mengkontrak rumah di Pagutan Permai, tepatnya di Jalan Danau ...

Tau Samawa

Setelah berhasil bernegosiasi dengan orang tua gue untuk tidak menggunakan adat-adat dalam pernikahan, ternyata gue tidak bisa terlepas sama sekali dengan hal itu. Di Sumbawa, ada serangkaian prosesi adat yang harus gue jalankan sebelum resepsi pernikahan. Gue bukan tidak menghormati adat, justru gue sangat percaya bahwa rangkaian adat-adat itu pasti punya nilai kebijkannya sendiri. Tapi sungguh gue tidak punya banyak waktu untuk mengikuti semuanya. Dalam perkawinan Sumbawa, calon pengantin harus mengikuti upacara luluran selama satu minggu berturut-turut dengan lulur yang berbeda-beda. Bagian ini berhasil gue skip. Selanjutnya gue harus ikut acara Barodak dan Mancar, tiga hari sebelum berlangsungnya resepsi. Pada bagian ini gue dan suami duduk berdampingan, kepala kami diberi kerudung kain Sumbawa. Selanjutnya ada pengajian dan pembacaan shalawat Nabi. Usai itu, ada tetabuhan yang dibawakan oleh ibu-ibu dengan kidung-kidung khas tau samawa (orang sumbawa). Di sebelah gue telah siap be...

Si Nista

Saat masih sekolah dasar dulu, ada pelajaran kesenian di sekolah dimana semua anak mendapatkan giliran untuk menyanyi di depan kelas. Terkadang kita diminta untuk menyanyikan sebuah lagu wajib, kadang juga lagu apapun terserah kita. Lucu kalau gue ingat masa itu, kadang cekikikan sendiri terkenang tingkah polah teman-teman. Ada teman yang hanya bisa menyanyikan lagu garuda pancasila. Apapun tema lagu yang diminta guru, dia keukeuh nyanyi garuda pancasila. Ada juga yang entah kenapa mencintai lagu "kemaren paman datang". Mungkin itu pengalaman pribadinya, atau hanya itu lagu yang di bisa..he..he.. Gue punya lagu favorit gue sendiri, yang sampai saat ini masih sering gue nyanyikan. Dengan pemaknaan dan penjiwaan yang terus bertambah. Gue gak tau judul lagu nya, tapi gue sangat suka lirik lagu nya Serumpun padi tumbuh disawah Hijau menguning daunnya Tumbuh di sawah penuh berlumpur Dipangkuan ibu pertiwi Serumpun jiwa suci Hidupnya nista abadi Serumpun padi mengandung janji Harap...

Here and There

Bukan, ini bukan tentang lagu beatles. Ini tentang pemadaman listrik yang sempat membuat panik beberapa orang Jakarta. Lalu saya mengingat malam-malam saya disana...di Sumba, di Buton, di Simeulue..dan di beberapa tempat lain di Indonesia. Malam yang seringkali hanya dihiasi oleh bintang dan bulan. Bahkan saat sebuah sepeda motor melintas, kita dapat melihatnya dengan jelas. Itu terjadi setiap hari...berulang...dan berulang. Kemudian saya mengingat kembali malam saya di sini...di sebuah apartemen di kuningan, milik pengembang yang juga seorang menteri. Saat semua begitu terang benderang..semua lampu menyala. Bahkan di gedung yang belum digunakan. Lalu saya teringat lagi di sana...dan...di sini.. Saya tidak bisa berkata apa-apa... beginikah dunia bekerja?