Skip to main content

Posts

Kerak Telor

Ada beberapa hal yang kita lakukan hanya untuk sebuah kenangan. Seperti kegiatan mengingat-ngingat lagu-lagu rock masa lalu yang saya lakukan bersama I, CM dan EN. Agak kurang jelas manfaatnya, sampai rela-rela mencari-cari di youtube sebuah lagu hits yang dibawakan grup musik wayang misalnya. Tapi kita bahagia sekali melakukannya. Bagi saya, membeli (dan tentu saja makan di tempat yang sama) kerak telor di arena PRJ adalah salah satunya. Saya kurang suka kerak telor. Menurut saya baunya agak amis dan rasanya datar-datar saja. Walaupun begitu, setiap saya ke pekan raya jakarta saya tidak pernah satu kalipun absent untuk membeli kerak telor. Itu seperti sudah jadi bagian dari ritual pergi ke PRJ. Peribahasa katanya nih, kurang sedep rasanye ke PRJ kagak beli kerak telor. Sabtu lalu saya ke PRJ, setelah kaki hampir copot rasanya berputar-putar saya memutuskan pulang. Sebelum pulang, tentu saja saya sempatkan mampir ke abang kerak telor. Saya potong sedikit dengan sendok dan mema...

Tiga

satu dari masa lalu satu dari masa sekarang satu dari masa lalu yang berusaha masuk ke masa sekarang mereka berkumpul kini, dalam kosmik yang kuciptakan di sini, kalian adalah kumpulan kata dan huruf yang meminta untuk dibaca tapi keindahan dari tiap kata dan huruf itu telah menjauhkanku dari tujuanku semula untuk membaca kalian dan mencoretnya tanpa ampun aku terseret dalam ombak asumsi, argumentasi dan preposisi yang kalian buat aku kehilangan tanda bacaku dan tak mencoret apapun

Bau-bau

Dari Bau-bau lagi, untuk kesekian kalinya. Bersama pak greg saya memfasilitasi Directors Meeting NGO di Muna dan Bau-bau. Pengalaman yang menarik, saya memang memuja pak greg sejak lama. Cara dia memfasilitasi, terutama dalam menghadapi audiens yang sulit sangat mencegangkan. Satu pembahasan yang memakan waktu cukup panjang adalah soal kepemilikin teman-teman terhadap rencana aksi yang mereka buat. Bukan barang baru bahwa lembaga donor ini sering punya masalah dengan mitra-mitranya. Kalau kata Mbak Yen, organisasi dengan kapasitas membangun jalan desa disuruh bangun jalan tol. Pasti aja gak bakal kesampaian. Tapi rasanya begitulah OMS di Indonesia - terutama di daerah- semua hal mau digeluti. Kadang tak berpikir sumber daya yang dimiliki. Atau dalam bahasa pak Greg, tidak strategik. Tidak perlu kita bersusah-susah ikut dalam suatu isu kalau kita tak punya sumber daya dan yang lebih penting lagi, ada organisasi lain yang bisa mengerjakannya. Untuk itulah kita berjaringan bukan. Dia juga...

Et cetera

Banyak hal yang harusnya bisa saya tulis dalam beberapa minggu terakhir ini. Saya berpindah ke lebih dari empat kota dalam sebulan ini, dari Lombok saya ke Bau-bau, lalu berdiam sejenal di Makasar, Jakarta, Bali lalu ke Jakarta kembali. Lelah sudah pasti, kangen suami, apalagi. Dari perjalanan ke berbagai kota itu saya bertemu banyak orang (sebagian besar adalah mereka yang tergabung dalam sebuah organisasi masyarakat sipil) dan mendaapatkan banyak sekali pengetahuan baru tentang dunia OMS ini. Bukan barang baru memang karena saya sudah terlibat di dalamnya selama kurang lebih sepuluh tahun, namun posisi saya di dalam kegiatan itu yang membuatnya berbeda. Saya harus melakukan pemeriksaan terhadap empat organisasi di sultra terkait beberapa aspek, visi dan kepemimpinan, kesolid an tim, budaya organisasi dan knowledge management. Secara umum organisasi ini punya dua problem utama yaitu soal visi dan kepemimpinan yang lemah dan kedua soal knowledge management yang kacau. Lemahnya lea...

Kopi atau Teh

Mereka yang sering bepergian ke pelosok Indonesia mungkin sudah sangat mahfum dengan situasi ini. Saat kita bertamu ke rumah seseorang atau ke suatu organisasi tanpa menanyakan keinginan kita, secara otomatis untuk perempuan akan disediakan teh dan kopi untuk laki-laki. Entah sudah berapa lama kebiasaan itu muncul, apakah berdasarkan suatu kebiasaan yang berlaku atau sebetulnya ada nilai tertentu yang melekat saya selalu lupa menanyakannya. Untuk kunjungan keluarga saya dan suami seringkali bertukar minuman yang disuguhkan, karena saya suka kopi dan suami saya tidak begitu suka. Atau kalau dia juga ingin kopi, biasanya kami meminta supaya dibuatkan kopi juga untuk saya. Tentu saja ini kalau bertamu ke rumah orang yang lumayan dekat. Yang menyebalkan adalah saat kita hadir dalam suatu pertemuan yang resmi dan jumlah pembuatan minuman sudah disesuaikan dengan perbandingan laki-laki dan perempuan. Ini saya temui di Lombok saat pertemuan dengan masyarakat adat atau dengan organisasi-orga...

Sebuah Sidang

Gue merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan hal dalam pekerjaan gue sebagai peneliti. Dari sidang tahunan MPR yang gegap gempita, rapat dengar pendapatnya DPR /DPRD, ketemu para petani, nelayan, kepala desa, dsb. Kemaren, untuk pertama kalinya gue ikut dalam sidang sebuah perkara waris di pengadilan agama mataram. Waktu Mark bilang ke gue bahwa tipikal hakim-hakim pengadilan agama di daerah itu tulus-tulus dan baik, gue tidak segera menerima pendapatnya. Yang ada di kepala gue, hakim pengadilan agama itu pasti patriarki dan bias gender...huhu, parahnya gue. Gue sudah memberikan penilaian tanpa pernah sekalipun berhubungan dengan mereka. Padahal ini adalah satu hal yang paling dilarang saat kita ingin berjaringan, gue ingat betul BS menekankan ini saat sharing pengalaman soal networking (Thanks bip). Sidang kemarin sungguh berharga buat gue, disamping mendapat banyak kenalan dari ibu-ibu yang sedang mendaftarkan perceraian gue juga tau betapa beratnya menjadi hakim...

Seruan

Gak ngerti. Kenapa setiap menjelang adzan, seluruh corong-corong di mesjid dekat rumah gue berlomba memperdengarkan bacaan ayat-ayat al quran. We're not talking about one or two mosque here, it's more than 6. Gue bahkan tidak bisa menangkap apa sesungguhnya sedang dibaca oleh masing-masing mesjid ini? Jadi apa gunanya mereka menggunakan speaker keras-keras kalau orang tidak bisa memahami apa yang sedang diperdengarkan. Kalau sekedar pengingat shalat, adzan sudah lebih dari cukup, diingatkan oleh 6 adzan kalau memang orang itu mau sholat pasti akan sholat. Atau tujuannya menjalankan ibadah sunah sebelum sholat, tapi yang diperdengarkan hanya kaset kok. Bukan beneran orang yang baca al qur an.   Gue orang yang gak pernah cerewet soal ini, rumah gue di Jakarta juga dekat dengan mushola. Tapi di Lombok, polusi suara dari mesjid sungguh-sungguh menganggu. Bahkan kadang, pagi saat gue baru bangun tidur, mereka memutar sandiwara radio di mesjid dengan suara yang sangat keras. Kalau ...