Skip to main content

Posts

Puisi Pagi

Pagi hadir kembali. Beberapa alunan lagu, secangkir kopi dan sepotong roti. Begitu selalu ritualnya menikmati pagi. Kadang ada suaranya menemani, tapi lebih sering pagi berlalu seperti ini. Lambat dan Lamat. Tak ada hiruk pikuk, tak ada lonceng yang memburu. Syahdu dan sendu. Ini pagi yang sempurna, pekiknya. Pagi memang selalu sempurna di matanya. Tapi setelah siang, semua menjadi menggila.

KKEB

Aku tidak ingin memilih, pun tak pernah berpikir tentang itu. Keberadan kita di sini, tak perlu dibahas.Kau nikmati hidupmu, kunikmati hidupku. Lalu kita nikmati hidup kita. Tak perlu ruang khusus, protokoler atau apapun bentuk ikatan itu. Hadirmu membebaskanku, hadirku mencerahkanmu. Apa yang lebih baik dari itu.

Guru Di Sekitar Kita

35 tahun adalah usia yang panjang untuk hidup. Itulah jumlah usia gue sekarang. Banyak hal yang telah temui dan akan gue temui. Yang bisa membawa gue kedukaan, kesukacitaan, kemarahan dan keputusaan. Namun, satu hal yang selalu ingin gue lakukan dalam setiap momen hidup gue adalah belajar. Bukan berarti sekolah loh. Orang-orang di sekitar gue adalah guru yang paling luar biasa dalam hidup gue. Kepribadian kita pasti sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita. Dari Deassy, nggirma dan iva gue belajar arti persahabatan, dari BS gue belajar ketekunan, dari RGA gue belajar memotivasi orang, dari EN gue belajar berpikir bijak, dari AS belajar membagi waktu, dari IN gue belajar menghargai pendapat, dari vokalis erk gue mengetahui banyak hal soal musik, dari adek gue gue belajar ketabahan, dari RR gue belajar kerja keras, dari RRP gue belajar keuletan dan keikhlasan, dari Ole gue belajar soal keceriaan, dari GPD soal mendidik anak. Dan masih banyak lagi. Beberapa pelajaran bahkan kada...

Dicari: Inspirasi

"Ya ampun sehari2 cm denger berita bencana, korupsi, kriminal, politik busuk sampe perceraian, ga ada yg lain apa ya?? ga ada yg menghibur sama sekali, what happen to this country? ” (status facebook seorang teman) Gue tercenung sejenak membaca status itu. Membuyarkan konsentrasi menulis laptah DPD yang menguras energi. Hari-hari orang indonesia memang diisi dengan kesuraman, seolah tiada kabar gembira yang telah dicapai bangsa ini. Buat sebagian orang, persoalan2 di atas mungkin menjadi diskusi yang menarik. Jadi ajang adu argumentasi dan wacana. Tapi buat orang-orang seperti teman gue di atas persoalan itu adalah energi negatif yang membayangi setiap langkah. Contoh kecil adalah di rumah gue, kecuali gue, gak ada satupun anggota keluarga gue yang mau menonton acara debat atau dialog di TV. Mereka letih mendengar orang-orang yang menurut mereka “cuma ngomong”. Membaca koranpun hanya dipilih berita-berita yang menyenangkan. Dan gue hampir yakin, ini adalah realitas yang ada di s...

Hanya tentang Saya

Gue sangat kagum pada orang yang bisa multitasking, mengerjakan banyak hal sekaligus dan semua berhasil dengan baik. Gue sama sekali tidak demikian, gue hanya bisa mengerjakan satu hal saja dalam satu waktu. Kalau saat gue kerja, tiba-tiba disuruh rapat atau ketemu orang, gue membutuhkan lebih dari satu hari untuk mengembalikan mood. Apa yang sudah ada dalam otak, tiba-tiba “blup” hilang. Kondisi ini kadang sangat membuat gue gundah. Apalagi kalau ada hal yang seharusnya gue bisa membantu, tapi gue selalu tolak karena memang gue sulit sekali untuk berbagi otak. Jangankan dalam bekerja, dalam makanpun gue tidak pernah memilih lebih dari dua buah lauk. Karena gue akan bingung cara makannya dan tidak suka rasa yang bercampur-campur. Saat ini, kondisi gue tak jauh berbeda. Disamping mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sisa, gue juga harus mengurus semua hal untuk kepindahan gue ke lombok. Gue tidak lagi punya “passion” untuk mengerjakan hal-hal lain, tentang organisasi misalnya. Banyak hal ...

Pak Nan dan Emak

Adalah Pak Nan dan Emak, gue memanggilnya demikian. Saudara jauh dari bokap yang tinggal bersebelahan dengan rumah gue. Sejak kecil gue sangat akrab dengan keluarga itu, gue sering tidur di rumahnya, belajar ngaji dengan ponakannya dan membantu mencabuti uban di kepala Pak Nan. Keluarga ini tidak dikaruniai anak, dan memutuskan untuk mengadopsi seorang putri pada tahun 1982. Putri kecilnya kemudian menikah dan dikaruniai 2 putra. Kalau gue pernah melihat seorang anak yang begitu berani dengan kedua orang tuanya, maka putri pak Nan inilah contohnya. Dia berani untuk membentak kedua orang tua itu. Dia asik nongkrong di warung atau menginap di rumah teman sementara dua anaknya yang kecil menjadi tanggungan Pak Nan dan Emak. Yang paling membuat gue ingin menangis adalah, Pak Nan kemaren pingsan di rumahnya. Apa pasal? Ternyata putri tercintanya diam-diam telah menukar semua perhiasan emasnya dengan perhiasan palsu. Uang tabungannya di bank pun telah habis terkuras karena ATM nya dipegan...

Kerinduanku

Dalam kesempatan nongkrong-nongkrong bareng anak-anak dua hari lalu, ada sempet terlontar pertanyaan dari gpd kenapa Cak begitu dikagumi. Dari pengalaman gue yang cuma sekelumit saja kerja bareng Cak (saat koalisi konstitusi dan ruu politik) gue sudah bisa dengan mudah jatuh hati dan kagum pada dia. Soal pinter, itu sudah pasti. Analisis dia selalu gak biasa, angle yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain. Gue suka melongo-melongo denger dia presentasi di anggota MPR dulu. Tapi orang pinter itu banyak, Cak mempunyai nilai lebih yang jarang dimiliki orang adalah kesederhanaan, keberanian dan kerendahatian. Soal kesederhanaan, sudah bukan rahasia umum kalo Cak kemana-mana naek vespa dengan rumah dan barang-barang yang biasa-biasa aja. Pasti banyak sekali tawaran-tawaran yang menggoda iman, tapi dia bisa menepisnya. Rendah hati, buat orang sekualitas dia gue rasa rada sombong dikit masih bisa dimaafkan. Tapi dia gak pernah menampakan itu sama sekali, dalam diskusi dan rapat-rapat di...